Saturday, March 15, 2008

Filosofi Pencarian

Entah mengapa tiba-tiba saja aku tertarik untuk menulisnya.

Mungkin karena aku tak juga beringsut dari keakuanku. Atau karena aku tak berani melangkah menjauh dari Ranny yang me-Ranny. Jika aku berkata demikian, pasti kalian ingat Ahmad Wahib bukan?

Jam belum genap merambat angka duabelas. Ah, mengapa malam ini terasa sendu sekali. Satu pertanyaan yang dari dulu mengiringiku adalah, sebenarnya apa yang aku cari. Dan sebenarnya layak atau tidak untuk aku hidup. Sekali lagi, ini pertanyaan filsafat yang paling mendasar. Aku benar-benar menyukai pertanyaan ini.

Dan terkadang aku tak mampu untuk menjawabnya.

Pada hari kemarin sempat aku melontarkan sebuah ucapan kepada seorang teman. Bahwa masa-masa pencarian jati diri (pencarian keakuan?)-ku bukanlah masa SMA seperti orang bilang. Waktu mencari adalah adalah sepanjang apa nafas masih mengimbangi pikiran. Jadi, selama aku bisa hidup, mungkin selama itu pula ritme masa pencarian keakuan-ku akan berjalan secara dinamis, semoga.

Terkadang aku sangat benci untuk mengintimi enam huruf yang bersatu menjadi kata : proses. Aku benci untuk berpura-pura aku menghormati proses sebagai bagian dari tujuan. Aku malu untuk mengakui bahwa aku produk masa kini yang ingin semua serba instant, serba praktis.

Dan inilah filosofi pencarian. Yang masing-masing dari kita terkadang tak mampu menjabarkannya. Terlebih aku. Yang adab kebebasan berpikir ku pegang erat. Bahkan aku juga membenci kata definisi dan deskripsi, yang memenjara keragaman pikir. Biarlah orang belajar ketidaksamaan mereka atas segala sesuatu. Termasuk dalam bertuhan kukira.

Pencarian dan tujuan. Dua hal yang tak terpisahkan. Untuk mencari tuhan kita rela ber-ritual, untuk mencari kehidupan yang nyaman, kita rela mengadai diri dengan idealisme pikir. Dan, untuk memperoleh ijazah aku rela disebut mahasiswi yang ‘menuntut ilmu’.

Hari kemarin, ada lelaki yang berani berbohong dan bersumpah demi Tuhan untuk mencari kepuasan seksualitas. Dan pertanyaan berlanjut. Sebenarnya ada berapa tingkatan dalam pencarian?

Pencarian dan eksistensi. Juga tak bisa terlepas begitu saja. Dari dulu frame otakku sering membentuk pola mengenai eksistensi, kaitannya dengan self esteem-nya Maslow. Tujuan dari apa yang kita cari sangat erat dengan eksistensi diri. Aku tak memungkirinya. Mencari pasangan, mencari pekerjaan, pencarian kebutuhan untuk dihargai orang lain, mencari kehidupan yang lebih baik misalnya. Dan tak jarang kita mencari celah kebohongan agar bisa disebut exsist. Aku ingat ucapan seorang lelaki, ia membilang, Ran, aku cuma ingin pacaran sama cewek-cewek cantik karena dengan begitu orang-orang tak akan meremehkanku sebab cewekku cantik. Inilah eksistensi, yang orang bisa saja menjadi hewan untuk bisa disebut exist.

Jadi, apa sebenarnya yang kita cari?

Friday, February 29, 2008

Perihal Mati


Aku mengimani kalimat ini, yang paling dekat dengan kita adalah Kematian.

Setelah beberapa sahabat purna dengan tugas mereka di dunia, ada hal yang sedikit asing mengelitik di sudut harmoni. Antara mati dan sebuah totalitas.

Aku sungguh-sungguh tak ingin mati muda. Tetapi kalau tuhan menilaiku tak layak lagi mendiami bumi ini, lantas apa kuasaku? Hari kemarin aku begitu terperangah melihat dua kawan yang terbiasa kupanggil : seorang baik, meninggal di usia yang relatif muda. Yang terbersit pertama kali adalah : Ah, lelucon macam apa ini?

Kemudian nalar membawaku pada sebuah kedalaman pikir. Bahwa mati muda, mati tua itu bukanlah urusanku sebagai sesuatu yang bertitel manusia. Yang menjadi masalah adalah, apakah totalitas menjadi temanku selama ini? apakah kemanfaatanku sebagai bagian dari kehidupan sosial adalah sebuah realitas, bukannya sekedar wacana?

Tersebut ia Elly. Teman satu kampus yang beberapa hari lalu meninggal. Tak genap satu bulan ia wisuda, ku-terakan padanya label mati muda. 23 Tahun. Umur yang sama denganku. Tetapi aku melihat pada dirinya sebuah keberartian. Yang mungkin fase itu belum bisa kumiliki.

Mati tua tapi tak memperoleh apa2, atau mati muda tetapi dalam hidupnya ia begitu mengenal dirinya sendiri dan mengerti apa yang akan apa yang dimaui-nya. Itulah yang kusebut keberartian. Mengisi dengan padat hidup yang singkat dan memetakannya menjadi alur yang berisi. Sekali lagi, bukan masalah rentang waktu!!

Tetapi kalau boleh berharap, aku masih ingin mati tua. Rasanya dingin sekali menunggu kiamat di lubang lahat.

Sunday, February 10, 2008

Lantas Latah Menjadi Islam

Maaf sebelumnya, karena mengumbar kecintaan pada Tuhan. Menulis juga karena ingin bercermin dari tulisan-tulisan sendiri.

Saya bukan penganut Muhammadiyah, NU ataupun Ahmadiyah. Bukan Sunni pun Syiah. Tidak Islam kiri dan Islam kanan. Bukan abangan, bukan pula putihan. Bukan golongan liberal atau golongan radikal. Saya bukan apa-apa. Mudah-mudahan inilah yang disebut Islam. Kalaupun termasuk golongan Ahlus Sunnah, biarlah Tuhan yang memasukkan kedalamnya. Tidak ada keberanian untuk meng-klaim diri seorang Ahlus Sunah. Memangnya siapa saya?

Sebagai manusia yang selalu bergerak dalam mencari Ada; Deo; Tuhan; Allah, saya ingin mengimaninya (semoga) secara berkesadaran. Ingin ber-islam bukan hanya karena warisan buangan, melainkan benar-benar berkesadaran sebagai islam. Menerima mentah-mentah ajaran islam untuk kemudian mengkajinya. Dari sini, jangan sekali-kali menghakimi : bahwa langkah itu terbalik. Sungguh, saya merasa mempunyai aturan sendiri yang mungkin tidak terpahami oleh orang lain. Kalau seorang kawan men-klonklusikan : saya seorang eksistensialis, saya akui.

Berbicara tentang eksistensialisme, sekarang sedang tertarik dengan tiga paham yang melandasi pemikiran Ali Syari`ati. Mistisisme, Sosialisme, Eksistensialisme. Pada mulanya agak kurang tertarik dengan Syari`ati. Eksistensialisme Syari`ati sangat berbeda dengan Sartre, saya juga sedang belajar mengenainya, Syariati lebih condong pada ketuhanan, sedang Sartre tidak.

Memandang agama sebagai jalan. Biarlah disebut konvensional bahkan feodal. Maaf, saya juga bukan seorang sekuler. Hanya bisa memahami agama sejauh yang diketahui. Entah mengapa, tuhan membelajari saya melalui dua hal: sikap dan buku. Awalnya adalah sikap orang tua dalam beragama. Mereka tidak sekalipun mendikte mengenai agama. Mereka ingin saya berkesadaran. Sungguh, mereka guru agama yang mengajari tanpa doktrin, tanpa kata. Dan kegemaran ayah ibu terhadap bacaan. Dua buah pijakan yang kuat untuk melangkah. Melalui buku pula saya semakin merasa ber-Islam. Terlebih saat masa SMA, buku-buku intelektual Muslim Mesir dan Iran selalu ada di tas. Agak kurang tertarik dengan cendikiawan Arab, Irak, pun Indonesia. Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya juga sedikit banyak telah mematri di otak. Hingga saat ini. Saya memandang dia sebagai manusia yang tahu kata : keberimbangan. Antara hablumminaallah dan hablumminannas. Vertikal dan horisontal. Tak melulu melaksanakan ritual penyembahan, Islam bukan hanya sekedar itu.

Mengapa secara berkesadaran memilih Islam sebagai agama yang tertera-kan di KTP? Semoga bukan hanya kebetulan karena berayah-beribu muslim, sehingga lantas latah menjadi Islam. Sungguh, saya ingin banyak mengenal agama lain. Sayangnya, sampai saat ini belum mempunyai kawan seorang Yahudi. Sedikit ingin mengetahui langsung agama ini. Mencoba mengenal agama lain dengan berteman dekat dengan kawan yang beda agama, membaca ajaran mereka seolah-olah itu adalah sebuah kebenaran, memahami kalau seandainya saya adalah mereka, adalah beberapa cara belajar agama lain. Walau jalan berteman itu adakalanya tidak merefleksikan keseluruhan agama, menyangkut subyek individunya sendiri.

Mungkin Tuhan tahu benar bahwa saya lebih baik hidup di Jawa, yang mayoritas Islam. Sepuluh hari di Bali, benar-benar tinggal di kost anak Bali yang beragama Hindu, aduh, benar-benar tidak kuat. Makan harus berhati-hati halal atau haramnya, masalah najis dan kebersihan, tempat ibadah dan rasa tertekan menjadi minoritas sangat terasa di Bali. Membayangkan, bilamana menjadi minoritas di Jawa. Sungguh sangat tidak menyenangkan. Saya selalu ingin menempatkan diri pada posisi orang lain dalam memperlakukan orang, termasuk mengandaikan diri menjadi minoritas. Pluralisme dengan batasan merupakan satu titik pencapaian.

Mengartikan Islam bukan hal yang mudah. Bagi saya, sampai saat ini, Islam adalah yang dirasa paling dapat mengakomodasi kebutuhan pencarian terhadap entitas bernama : Ada. Berani ber-Islam adalah berani mengimani keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Walaupun fase hidup pernah mengantar pada keadaan menjadi seorang jilbaber, dan sekarang berpakaian yang memperlihatkan sebagian kulit, tidak ada penyangkalan bahwa jilbab diperlukan sebagai pelindung. Penyangkalan akan lebih mementahkan keagamaan seseorang dengan melakukan pembenaran dan pencarian alibi, ini menurut ilmu psikologi. Tapi inilah bukti kesempurnaan manusia, ada nafsu untuk membangkang. Dan jika orang lain tidak setuju akan poligami, saya tidak masalah dengan hal ini, dengan banyak catatan. Jadi, buat apa mengakui Muhammad sebagai Utusan Tuhan kalau mengingkari poligaminya. Menganggap poligami sebagai ‘hanya patut dilakukan Muhammad karena ia bisa mewujudkan bagaimana itu adil dengan dekat’. Muhammad masih manusia toh? Dan kita juga manusia. Saya malah memandang poligami Muhammad sebagai sebuah kesempurnaan. Bukankah manusia itu selalu punya dua sisi. Ah, kalau Muhammad juga dianggap Tuhan seperti Isa dianggap sebagai Tuhan, bilamana jadinya ya? Tidak bisa membayangkan. Berbicara mengenai Muhammad, saya sedang dalam fase mencoba untuk lebih dapat mengenalnya. Entah mengapa, kecintaaan terhadapnya masih terasa amat sangat kurang. Selama ini, hanya doktrin guru-guru agama yang mencoba masuk di pikiran. Sabda Muhammad sedikit banyak telah dipelajari. Tapi frekuensinya tidak sebanyak seperti saat membelajari ketauhidan.

Semoga kita yang mengaku beragama, merasa betul mempunyai agama. Sehingga pilihan atas ke-beragama-an kita bisa dipertanggungjawabkan sebagai sebuah bentuk kedewasaan. Saya ingin mementahkan pendapat bahwa seorang atheis adalah yang paling banyak memikirkan tuhan. Tidak hanya atheis, seorang theis juga. Semua orang sebenarnya banyak memikirkan tuhan. Dengan cara yang berlainan. Pemabuk saat memegang vodka, pelacur saat bersenggama, misalnya. Dan inilah cara saya, dengan kesederhanaan saya. Semoga makna keberimbangan betul-betul bisa dimaknai di dataran teoritis, untuk kemudian dilaksanakan pada ranah praksis.

Monday, January 14, 2008

Budjana, Gigi, Infotainment, dan Saya

Gimana kabar Soeharto? ujar Budjana membuka Press Conference malam itu, 11 Januari 2008, tepat pukul 12 malam di Hotel Santika. Satu jam sesudah konser di kota kenangan, Jogjakarta.

Saya pun tersenyum mendengarnya, setengah ngikik. Bagaimana tidak, satu jam ikut berkumpul dengan wartawan infotainment dari berbagai media cetak dan media elektronik nasional, pembicaraan mereka memang tidak lepas dari kondisi Soeharto yang sedang dalam masa kritis malam itu. Tentu artis-artis seperti Budjana tahu betul kalau wartawan-wartawan ini up to date masalah pergosipan. Dapat disimpulkan, mereka ikut-ikutan repot seperti trah Cendana yang lain. Bagaimana tidak, beberapa diantaranya setelah meliput konser Gigi, harus mendapat kepastian apakah Soeharto jadi meninggal atau tidak, kalau iya, mereka harus bersegera pindah posisi ke Karanganyar. Celutukan-celutukan yang sarkas tentang Soeharto kerapkali terdengar. Para pewarta infotainment ini juga saling bertukar informasi tentang Soeharto. Ada salah satu mbak-mbak berjilbab yang nampaknya hafal betul riwayat pergosipan Si Soe ini sampai ke keponakan-keponakannya dan bumbu-bumbunya.

Beberapa dari mereka nampak kelelahan, dan omongannya pun semakin merancau menyudutkan Soeharto, bukannya mendoakan Bapak Tua itu untuk cepat sembuh, tapi mengumpat ia agar segera menghadap sang Gusti. Wah, tentu saja saya yang belum pernah se-intim itu dengan wartawan infotainment cuma senyum-senyum nggak jelas. Yang secara kasat mata terlihat smart itu wartawan dan kameramen dari Trans TV. Yang lain? Saya nggak bisa menjamin.

Yang pasti, saya puas sekali atas konser Gigi malam itu. Two Thumb up for them plus dua jempol kaki saya deh. Saya melihat, di Indonesia yang komposisi pemainnya semua kelas atas ya cuma band Gigi ini. Armand Maulana selalu tampak atraktif dan vokalnya tidak kedodoran walau tingkahnya kayak kucing kejepit kesana-kemari. Thomas Ramdhan, bassist paling saya gemari di Indonesia ini tentu tidak ada yang mensangsikan keandalannya. Dewa Budjana? Inspirator saya nomor satu untuk belajar gitar ini tak usahlah dikasih komentar. Siapapun tahu kualitas musikalitas dia. Dan Hendy? Aha, baru kali ini saya mengetahui betapa bagusnya permainannya diatas panggung secara live. Mantap!!

Tiga kali sudah saya melihat konser mereka di Jogja. Selalu mengesankan. Walaupun rating super groupband di Indonesia nomor satu menurut saya tetap Slank, tetapi Gigi juga mempunyai tempat tersendiri. Mungkin bagi semua orang yang melihat konser Gigi malam itu, mereka akan menyisihkan sebagian memorinya untuk mengingat kepuasan mereka atas konser tersebut. Seperti halnya Gigi mengingat Kota Jogja sebagai kota yang spesial. (Jokja memang istimewa untuk kita, yang pernah mengenalnya...).

Duapuluh lagu dibawakan Armand cs hampir tanpa jeda. Beberapa diantaranya dibawakan secara medley. Kebetulan ada seorang teman yang baik hati memberikan sebuah kartu sakti sehingga saya bisa memelototi Budjana dari jarak satu meter di backstage (thx Dipt, walo aku harus rela dicela habis2an dulu...). Sengaja saya nggak mau olahraga mata mengikuti gerak Armand, tapi terpusat pada dua tangan Budjana. Seseorang yang plural, dalam dan menarik. Walau dia kalau ngomong kadang tanpa filter dan orangnya jahil, pas ditatap dia, aduh, mau mati rasanya. Ah, berlebihan. Mungkin karena terlalu mendramatisir dengan mas Budjana ini pula, foto saya bareng dia ancur jadinya. Tuhan nggak mau saya sombong karena pamer, ucap saya mendamaikan hati.

Kesimpulannya? Saya nggak mau jadi wartawan infotainment. Dan saya puas sekali dengan konser Gigi malam itu. Oya, Budjana still inspired me. So so deh....

Ps : sayangnya senar gitarku belum bisa saya ganti. Senar seharga limapuluh ribu pun tak kuat saya membelinya sekarang. Aduh skripsi, kamu bikin aye kere. Ada yang mau ngasih kado senar gitar di ultah saya yang beberapa hari lagi? Hahaha...

Tuesday, December 18, 2007

Tiang Pancang


Aku takjub kepada mereka yang mengenal arti kata totalitas, kerja keras dan terfokus. Yang menggilai ketiga kata ajaib itu. Hal ini tentu ada alasannya. Pertama, karena dalam hidup aku belum pernah sekalipun total dalam sesuatu (termasuk beragama), dan yang kedua, aku sedang tertantang untuk total dan fokus terhadap sesuatu.

Kupikir hidupku selama ini hanya satu kata yang bisa mewakilinya : suka-suka. Sesuka aku mau ngapain, nggak ada yang pernah (dan yang bisa) melarang aku untuk hal yang aku kerjakan. Termasuk kedua orangtuaku. Bukan karena aku membangkang pada mereka, tetapi karena kedua orang itu, dimana hanya pada mereka aku bisa tunduk, nggak pernah ngasih batasan. Cuma dan hanya mencontohkan diri mereka, terserah aku mau meniru mereka atau nggak. Enak bukan?

Kenapa aku bilang suka-suka? Sampai umurku yang udah 22 tahun, jarang aku merasa sedih. Hal terberat dalam hidupku hanya sewaktu aku difitnah teman sendiri karena dukun. Jarang kuliah tapi tutup teori cepat, skripsi dapat yang mudah. Punya banyak teman. Kerjaannya senang-senang. Dan membayangkan, apa yang akan aku dapat nanti dari Tuhan kalau selama ini hidupku cuma buat ketawa aja.

Dan ternyata semua itu melenakan.

Ternyata dalam hidup, aku belum sekali pun bekerja keras. Aku tak mengerti itu totalitas, kerja keras, terfokus dan konsentrasi. Bahkan aku hormat pada mereka yang selalu memposting tulisan mereka di blog secara kontinyu dan teratur. Tulisan ini mungkin nggak mutu buat yang baca, tapi buat aku, inilah tiang pancang!

Friday, September 7, 2007

Kidung Lelah buat Kamu..


Ya, begitulah adanya. Aku sudah lelah dengan perasaan yang telah aku bentuk sendiri. Baiklah, jika pesan-pesan pendek itu belum menjelaskan semuanya, mari bantu aku menjabarkan.


Bahkan aku binggung harus mulai dari mana.


Sejujurnya, aku pernah mempunyai obsesi menjinakkan lelaki bangsat sepertimu. Jangan dikira pertama kali melihatmu, aku tak bisa membacamu. Aku menyukaimu, in esentia. Bukan secara eksistensia.

Malam itu, malam kau ingin mempersenggamai-ku silam, kau membilang padaku, bahwa kau mempunyai sebuah labolatorium-mu sendiri kena kehidupan. Pun aku. Pun aku tentunya, A. Aku adalah kelinci percobaanmu yang gagal untuk kau cobai. Dan kau? Bagiku, kau hanyalah orang yang berada di tempat dan waktu yang salah sehingga secara tak sadar aku telah menyeretmu kedalam labolatorium esensia dan eksistensiaku. Aku tak berbakat menjadi penjabar, mungkin pula tulisan ini nanti tak akan memuaskanmu.

Apa yang kau inginkan dari-ku?, ujarmu dari pesan yang kau kirim. Ah, memangnya apa yang kau punya? Aku hanya butuh esensi yang kau miliki. Aku butuh penggambaran. Sudah berulang ku kata kepadamu, bahwa semua yang terlaku berpijak pada ketidakberharapan apa-apa. Dan salah kalau kau menginginkan sesuatu dariku.

Kau benar, amarah itu belum mereda.

Aku sudah terlalu jauh bermain-main dengan hatiku sendiri. Seperti sudah keasyikan sendiri. Sebenarnya aku tak ingin mengikutsertakanmu dalam permainan ini, A. Aku ingin bermain sendiri. Kau sendiri yang lantas memainkan serta peranmu. Kau laki-laki, mudah tergoda.

Semua ini terjadi hanya karena aku terlalu menghayati sebuah pemaknaan. Kalaulah boleh jujur, aku sendiri pun ragu, apakah pernah perempuan lindap satu ini menyukai seorang lelaki. Aku ragu, apakah semua yang kulakukan padamu memang hanya sebuah kamuflase murahan.

Kau tahu, A. Semua yang terkata kepadamu dari mulutku, beberapa diantaranya adalah siratan kata. Dan rupanya kau tak mampu menterjemahkannya. Kau memang bodoh rupanya. Sekali lagi A, kau harus berhati-hati terhadap wanita sepertiku. Mungkin, akulah mautmu. Bisa jadi pula, aku jalan pulangmu.

Ah, penismu terlalu kecil rupanya. Sehingga kau pun harus mengesek otot itu pada setiap lubang garba. Bukankah otot akan membesar jika sering dipergunakan. Toleh ke tangan kanan dan tangan kirimu, A. Kau tak kidal, jadi tangan kananmu lebih besar daripada yang kiri. Pembelajaran otot ini yang kau terapkan untuk membesarkan penismu yang kecil itu, A. Ini amarahku. Ini lelahku. Wajar kalau aku berkata seperti ini. Boleh kutanya, siapa wanita yang paling memuaskanmu secara seksualitas?

Aku suka lelaki yang bermasalah seperti kau. Dengan pikiranmu yang me-rumit. Tetapi rupanya kau terlalu berpusat pada dirimu sendiri. Kau banyak membaca tapi sebenarnya tak mengerti apa-apa yang telah kau baca. Aku menghakimimu? Sudah kubilang, malam terakhir kita mengirim pesan itu, baru aku bisa menilaimu.

A, aku memanggilmu dengan sebutan bangsat tampan dan cah elek. Kau tau mengapa? Sebab ada dua sisi darimu yang aku ingin ketahui. Kau sadar bahwa dirimu menarik secara fisik, dan itulah kelemahanmu. Walaupun kau kalah jauh tampan dengan lelaki-lelaki yang kupunyai sebelumnya, A, tetapi aku suka senyum bangsat dan matamu. Bahkan mas Fahri bilang, seleraku rendah dan levelku turun dengan mengharapmu. Justru karena itu, aku tak mau lagi dekat dengan lelaki-lelaki putih dan rupawan yang tak memuaskanku. Aku sudah terlalu bosan dengan lelaki jenis ini. Lembek, tidak liat.

Sudah setahun aku mempetualangimu. Sudah setahun aku kesakitan atas perbuatanku sendiri. Sudah terlalu jauh pula catatan tentangmu melampaui batas kertas yang kupersiapkan untuk fase aku menyukaimu. Sudah saatnya aku mengganti dengan lelaki lain, yang tentunya A, tidak sebangsat kamu.

Ada sebagian kecil bahwa kau juga telah kupermainkan dengan kata-kata yang terlontar. Kau bilang kau belajar bermetafora dariku. Dan kau sendiri, adalah bahan pembelajaranku. Seharusnya kau bisa mengeja apa yang kukata. Kau harus belajar banyak tentang hidup. Ingin sekali kuteriakkan ini dikepalamu. Biar sekalian saja meledak.

Perubahan sikap yang ada saat ini, mungkin kau telah marah karena tak bisa menjinakkanku perempuan bangsat satu ini yang mungkin sama pula sebangsat kau. Aku satu-satunya wanita yang menolak untuk kau setubuhi kah? Hahaha.., bersetubuh memang mudah, tapi tidak dengan ekornya yang akan terus melingkupi jika aku melakukannya. Sebab pula, dalam hidup, pelajaran yang baru kupelajari adalah bagian pengendalian diri, A. Seharusnya kau tahu itu. Sekali lagi, kau masih harus banyak belajar.

Kini, tak akan ada lagi yang akan mencemoohku karena menyukaimu. Mereka kini telah bisa menepuk dada mereka dengan jumawa sebab dikiranya aku bisa menjauhimu karena pengaruh mereka. Tak mudah bagiku melupakan lelaki yang paling aku sukai dalam hidup. Tetapi roda harus tetap berjalan. Tuhan selalu memberi apa yang aku pinta. Tetapi tidak untuk kali ini. Tidak untuk memberimu kepadaku.

Kau sudah berselingkuh denganku, A. Kau tidak bisa memungkirinya. Dan kau bilang perempuanmu tidak mengetahui semua yang telah kau lakukan. Ah, aku ingat, kau masih berhutang padaku, untuk memperkenalkan perempuan itu padaku. Katamu, biar aku bisa mengejeknya. Mungkin karena kau lebih memilih pulang ke perempuanmu daripada memilihku.

Baiklah, pada akhirnya aku bisa membilang, bahwa kau-lah lelaki yang paling kusuka selama ini dalam hidupku. Kau ingat kau pernah menanya hal ini padaku kan? Ini jawabanku. Aku akui. Aku tak pernah menyesal melakukan semua hal yang telah kuperbuat terhadapmu. Kau lelaki indah dengan banyak kekuranganmu itu.

Kini aku sudah menekuk lututku. Tanda aku tak mampu meneruskan perjalanan ini..

Kini, Saya Seorang Buruh!!!


Banyak orang yang mengaku sebagai bagian dari apa yang dirasakan oleh para buruh di negara antah-berantah berjudul Indonesia ini. Dan sekarang, saya bisa bangga membilang, saya tahu pasti apa yang mereka jalani. Tentu tak bisa begitu saja berkata banyak, jika belum mencoba.

Jadi, alhasil sekarang saya menjadi seorang buruh. Benar-benar terjun menjadi buruh pabrik di tempat saya kerja praktek. Sebenarnya bisa saja saya hanya sok mengamati dan sok keminter dengan hanya di labolatorium produksinya saja. Tetapi tentu saja itu bukan Ranni muda yang saya kenal.

Hari pertama, sudah mengeluh dengan rasa kelu di kaki karena berdiri tiga jam. Hari-hari selanjutnya berjam-jam kontinyu menjadi buruh, alias operator bahasa jamaknya di dunia Industri. Memasukkan pintalan benang di mesin auto winding, membersihkan mesin spinning, memeriksa kualitas Ne di labolatorium, mengetahui seluk beluk mesin-mesin lain semisal drawing dan carding, dan menangani re-use waste.

Kesimpulan yang didapat : banyak pabrik di Indonesia tidak memanusiakan para buruh!!! Kebetulan saya kuliah di teknik industri sehingga sedikit banyak mengetahui mengenai ergonomi dan standar kenyamanan kerja.

Di pabrik tempat saya kerja praktek, kebetulan BUMN, tidak bisa dibilang ideal untuk kondisi pabrik yang baik. Cecurut masih saja nyelonong saat pemberian materi di ruang senior supervisor. Kantor disana terkesan kotor karena mungkin sudah berpuluh tahun tidak diperbaharukan segala sesuatunya. Debu yang beterbangan, AC mati, kebisingan yang mungkin sangat amat melebihi batas desible yang diharuskan, getaran lantai produksi yang diluar batas, kelembaban yang tinggi dan masih banyak lagi yang bikin anda serasa tidak menjadi manusia didalamnya. Standar kenyamanan kerja tidak diterapkan lagi.

Para buruh disini sudah terbiasa dengan keadaan. Atau mungkin menurut saya, memaksa diri untuk memperbiasakan keadaan itu. Secara teori, mereka harus menggunakan penutup telinga dan wearpack serta AC dan penyedot debu harus selalu dinyalakan. Alasan direksi, mereka harus menghemat biaya listrik dan biaya produksi agar perusahaan tidak selalu merugi. Di pabrik ini, komputer hanya ada satu dua. Bahkan bagian produksi tidak ada komputer. Para supervisor produksi pasti membawa kalkulator di saku celana atau baju mereka. Menghitung kecepatan spindle, kerugian dan urusan mesin yang harus selalu dihitung semisal ada kerusakan. Masih manual. Bahkan saya sering heran melihat orang-orang labolatorium yang setiap hari harus mencatat, menghitung, menganalisa kualitas dan kecacatan produk hanya dengan pena, kertas dan kalkulator. Setiap hari. Coba hubungkan hal ini dengan absurditasnya Camus.

Pak Mar, sang senior supervisor berseloroh melihat saya dan kawan-kawan sudah tewas berdiri beberapa jam. Lha operator itu bekerja delapan jam sehari hanya istirahat setengah jam saja mereka tidak berdiri, paparnya. Hah? Padahal mereka harus mondar-mandir dari pojok mesin satu ke pojok yang lain. Bahkan para supervisor dan senior supervisor juga harus berkeliling berjam-jam pula.

Penyakit yang timbul akibat tidak memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan kerja ini, tidak main-main. Telinga pekak dan asma merupakan contohnya.

Upah mereka? Jangan ditanya. Semua sudah mengetahui rahasia ketidakadilan ini. inilah mungkin yang menjadi dilema saya dan beberapa anak teknik industri. Satu sisi kita dituntut untuk menurunkan biaya produksi dan mengoptimalkan hasil produksi, disisi lain, tentu kita masih banyak membaca buku-buku mengenai sistem perburuhan di Indonesia yang memberat sebelah.

Jadi, bagaimana idealisme tak membentur kenyataan, inilah tantangan.