Thursday, February 17, 2011
Berdikari Sebagai Wanita.
Ada hal yang sedikit menganggu pikiran ketika ada seorang lelaki membilang kepadaku, bahwa sifat toleransi ku lemah. Jangan sama kan semua perempuan memiliki kekuatan seperti yang kamu punya, ujarnya. Tidak semua perempuan dianugerahi pemikiran seperti itu. Cobalah ada pada posisi mereka yang lemah.
Dia benar. Sangat benar. Sifat toleransiku memang rendah. Tuhan sangat baik hati terhadapku. Memberiku sedikit sifat lelaki, memberi kadar feminim dan maskulin yang prosentasenya sangat pas menurutku.
Dahulu aku menganggap mereka, perempuan perempuan itu yang kukira begitu lemahnya, tersakiti karena mereka memang menyediakan diri untuk disakiti. Kalau aku, pasti akan aku lawan. Dahulu aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa melawan ketika suami mereka bertindak sewenang wenang terhadap badan dan kehormatannya sebagai wanita. Aku tidak bisa memahami kenapa mereka hanya pasrah saja diperlakukan demikian.
Aku juga tidak mengerti kenapa harus ada paham feminisme, kenapa harus ada kata kata belum sejajarnya perempuan dengan lelaki, bias gender dan lain lain. Karena yang aku tahu, selama hidup aku diperlakukan sama saja oleh lingkunganku. Tidak pernah dibeda bedakan apakah aku perempuan ataupun lelaki.
Aku dihormati lingkunganku bukan karena aku lelaki ataupun perempuan.
Aku merasa diperlakukan sewajarnya.
Karena aku memposisikan diri sebagai perempuan yang memang sejajar dengan lelaki.
Tetapi aku lupa, tidak semua manusia, perempuan pada khususnya, bisa seragam dalam berpikir, terlebih lagi dalam bertindak.
Setelah usia kian bertambah, pengalaman hidup pun tentu bertambah. Mata dan batin semakin kaya. Semakin banyak melihat kenyataan di luar sana, bahwa perempuan banyak yg menjadi marjinal. Tentunya bukan keinginan mereka untuk menjadi seperti itu. Entah kenapa, mungkin rasa sayang mereka kepada pasangan, kepada anak anak yang mereka lahirkan, yang membuat mereka seperti ini. Atau karena mereka tidak mampu berdikari?
Berdikari sebagai perempuan.
Bukan berarti meremehkan kodrat lelaki sebagai pemimpin keluarga. Bukan berarti mengecilkan peran lelaki sebagai pasangan jiwa, ataupun mengecilkan peran mereka sebagai pencari nafkah.
Bukan, bukan itu.
Berdikari sebagai perempuan, menurutku adalah kekuatan dari kita sebagai perempuan untuk berhak lepas dari perasaan tersakiti. Fisik maupun batin. Menjadi mandiri. Menjadi perempuan kuat, perempuan tangguh. Tidak banyak mengeluh ketika banyak hal yg tidak sesuai dengan keinginan kita.
Berdikari.
Berdiri diatas kaki sendiri, kata Soekarno.
Bahwa kita mampu. Mampu melawan. Mampu berkata tidak. Adalah hak kita untuk merasa bahagia.
Katakan tidak ketika pasanganmu melecehkan mu secara seksual atas nama cinta. Adalah hak kamu untuk mendapatkan pasangan yang baik, dan setia. Dan lelaki yg tidak menggunakan tangannya untuk menyelesaikan masalah.
Kalau memang naluri mereka seperti itu, lakukan preventing. Pintar pintar nya kamu untuk mengelola pasanganmu. Yang pasti, jangan pernah menyediakan diri untuk menjadi perempuan yang mau untuk disakiti.
Jangan pernah tergantung kepada sesuatu, kepada seseorang, selain kepada Tuhan. Jangan pernah berharap lebih kepada manusia. Agar kamu tidak banyak kecewa.
Monday, December 6, 2010
Saya Bangga jadi Orang Indonesia
Sebangga saya menjadi diri saya sendiri.
Meski banyak yang bilang Indonesia adalah Negara yang kurang disiplin, kotor, korup, tidak maju dan bla bla bla lainnya. Maaf, itu Indonesia yang mana? Mungkin malah anda sendiri yang tidak disiplin, kotor dan tidak terencana dengan baik itu .
Menurut saya, labeling dalam ilmu psikologi juga banyak berlaku dalam hal ini. Justru karena sudah beranggapan dan memberi label bahwa bangsa ini adalah bangsa yang seperti itu, maka jadi seperti itulah Indonesia. Saya yakin kalo banyak yang melakukan hal hal yang konkret, tidak malah banyak omong, Indonesia bisa menjadi negara yang mana setiap orang bisa dengan lantang membilang ia bangga akan bangsanya. Sebelumnya, ubah mindset anda. Berpikiran positif, bahwa bangsa ini bisa berubah ke arah yang lebih baik, ubah keseharian anda, ubah lingkungan anda. Bayangkan jika satu orang bisa merubah lima orang dalam lingkungannya. Tidak usah bermimpi banyak dahulu.
Banyak orang bermimpi Negara ini bisa seperti Singapore, yang bersih, terencana dengan baik, disiplin dan sebagainya. Andai mengatur orang banyak itu mudah, itu bukan mimpi. Tapi? Tapi seolah kita lupa, satu hal saja misalnya : luas, jumlah penduduk dan pendidikan.
Sebenarnya kalau dipikir pikir, sangat amat menyenangkan tinggal di negara ini. Majemuk. Satu keluarga saja tidak mampu disamakan jalan pikirannya, apalagi Indonesia. Sangat beragam. Beragam tapi tidak bisa diseragamkan. Tidak bisa rumah rumah kumuh di pinggiran Jakarta itu, yang menurut kita kumuh, bisa seragam dengan pikiran penghuninya. Rumah yang sehari hari mereka geluti tak mungkin dianggap kumuh oleh mereka sendiri, bukan?
Berbicara tentang Jakarta, sebenarnya bukan masalah rumah kumuh, menganggu tata letak kota dan sebagainya. Tapi ada hal lain yang lebih penting. Bahwa Jakarta bukan kota yang ramah untuk pencari mimpi yang cuma punya modal mimpi sedikit. Ini menurut saya pribadi. Kaum kaum urban yang akhirnya saling bertabrakan antara sang kaya dan sang kumuh. Sang kumuh dipersalahkan atas ketidakteraturan Jakarta, yang akhirnya terlihat sebagai Indonesia kecil yang bobrok secara penglihatan fisik.
Sebenarnya, justru ketidakteraturan itulah yang akhirnya menggambarkan hal yang krusial : bahwa manusia tidak bisa diseragamkan. Dan mengubah orang adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Setidaknya, jika tidak banyak yang bisa dilakukan, diamlah. Terkadang muak melihat orang yang melabeli bangsa ini dengan hal hal buruk, tanpa ada hal nyata yang dilakukan. Bangsa ini sudah terlalu penuh dengan orang orang seperti itu. Jika anda bilang itu kritik, kritik terlebih dahulu diri anda sendiri.
Sekali lagi, saya bangga jadi bagian dari bangsa ini.
Bangsa besar yang founding father kita punya impian besar yang akhirnya nyata. Yang impian besar mereka terhempas oleh ketidakmampuan manusia Indonesia sekarang untuk meneruskan mimpi mimpi besar mereka. Keheranan bagaimana bisa bangsa aceh, suku batak, orang manado, masyarakat banda dan orang flores yang dari pulau berbeda, bahasa berbeda dan kebudayaan berbeda bisa menjadi satu. Bagaimana mereka bisa mengenyampingkan ego nya. Sementara sekarang?
Wajar kalau orang yang mengeluh tentang Indonesia itu bukan orang seperti saya. Yang sangat menyukai dan banyak bersyukur hidup di Indonesia. Yang ketinggian gunung dan kedalaman lautnya adalah salah satu hal besar yang mengubah pandangan saya mengenai Indonesia. Sebuah keindahan hakiki yang mungkin tidak semua orang diberi kesempatan oleh tuhan untuk mencicipinya. Sebuah kebersyukuran tinggal di negara berjudul Indonesia. Yang cahaya bintang dibeberapa pulau kecil yang pernah saya kunjungi mungkin tidak bisa ditemukan ditempat lain, yang pemandangan bawah lautnya begitu kaya, begitu meng`imajinasi. Yang bisa melihat enam gunung disamping nya ketika berada dipuncak salah satu gunung.
Kekayaan berupa banyaknya suku, bahasa, pemikiran, agama, keindahan pantai, laut, puncak gunung.. kalau dipikir pikir, sesungguhnya yang membuat bangsa ini kaya adalah keberagaman.. keberagaman itu bisa berupa perbedaan pola pikir dalam memandang sesuatu. Dan sekali lagi, tidak semua bisa diseragamkan. Kita bukan bangsa robot. Kita bukan bangsa tetangga yang bisa mendisiplinkan sesuatu yang terkadang manusia adalah sebuah mesin.
Mari kita membayangkan, jika kita hidup di arab. Harus pakai baju yang tertutup, perempuan tidak bebas berdikari. Kalau saya, jelas akan merasa terkekang. Tapi bayangkan juga kalau kita hidup di eropa atau freestyle country named United States. Orang mabuk seenaknya, ML seenaknya, pakai pakaian sangat amat seenaknya. Mau? Atau mau di Singapore yang orang cuma ngomongin belanja, belanja dan belanja serta bisnis aja?
Mau macet, banjir atau menjenuhkannya Jakarta, sebenarnya itu adalah pilihan mereka yang mau tinggal di Jakarta. Tidak bisa anda menyamakan Jakarta dengan Indonesia. Sudah berani memutuskan untuk tinggal di kota itu adalah sebuah kedewasaan. Berarti anda sudah berani memikul tanggung jawab untuk tidak mengeluh hidup disana. Termasuk tidak mengeluhkan manusia manusia yang tidak seragam pikirannya.
Sebenarnya yang tidak disiplin itu bukan bangsa Indonesia, tetapi mereka yang cuma banyak omong tetapi tidak mau merubah kebiasaan itu secara nyata. Percayalah..
Jangan ngaku Indonesia hanya ketika kamu merasa batik udah direbut, dibilang Indon sama negara tetangga. Jangan merasa terinjak injak harga dirinya ketika banyak TKW dibunuh, disiksa. Keseharian kamu menunjukkan siapa kamu.
Memperbaiki diri dari hari ke hari, adalah salah satu sikap nasionalis, menurut aku. Tidak tahu menurut kamu.
Tantangan dari Saya, untuk Anda.
Setelah aku masuk di dalamnya, baru aku tahu benar bagaimana dan bagaimana serta bagaimana PNS itu. Ada sebagian yang salah, dan sebagian benar dari banyak orang awam katakan mengenai profesi ini. Sayangnya banyak dari mereka yang cuma berkoar-koar, yang kubilang tidak melakukan hal yang begitu konkret. Tidak banyak membantu. Tidak banyak merubah.
Merubah sistem ada dua cara. Dari luar dan dari dalam. Kalo semua orang merubah sistem itu dari luar semua, sama aja bohong. Hampir semuanya melakukan hal tersebut sekarang ini. Bicara di forum dunia nyata maupun dunia maya, dan cuma ngomong ngalor ngidul tidak ada tindakan nyata. Apakah ada perubahan yang signifikan? Tidak, kubilang. Dunia per-PNS-an masih seperti ini. Masih sama, baik anda ngomong, ataupun anda diam. Perkecualian, salah dua hal konkret yang dilakukan dari luar adalah demonstrasi dan jurnalisme. Kedua hal itu agak membantu menurutku.
Cara kedua merubah sistem yang sudah mengakar kuat adalah dengan cara merubahnya dari dalam. Tentunya harus ada proses `kedalam` terlebih dahulu, bukan? Alias menjadi PNS itu sendiri. Gak usah muluk muluk, mau mengubah bangsa ini bebas korupsi, bebas dari pegawai malas, bebas dari ketidakdisiplinan. Cukup ubah lingkungan anda dahulu, tetapi sebelumnya, ubah mental anda, si pelakon cerita, terlebih dahulu.
Kenapa aku membilang : mental anda? Karena anda akan memasuki kotak aman. Yang kalo terbawa arus dalam kotak itu, idealisme anda yang akan jadi taruhannya. Ingat, Akbar T*njung dulu nya adalah ketua HMI. Sedangkan anda?? Setiap orang yang diluar PNS pasti mudah saja bilang ini itu, tetapi aku gak yakin mereka bisa ngomong kayak gitu kalau udah jadi PNS. Banyak yang terbuai dengan kotak nyaman mereka masing masing. Pasti.
Aku masih ingat ketika ada seorang kawan membilang, PNS? Kayak nggak ada kerjaan lain aja, ujarnya. Kubilang sih, pikirannya sedikit picik. Terus terang, kelebihan menjadi PNS secara individu, bagi perempuan seperti saya yang masih agak kuno, tentulah mengenai waktu kerja yang relatif agak manusiawi dibanding perusahaan swasta. Apalagi aku, seorang perempuan yang nantinya mempunyai pekerjaan tetap lain dan lebih utama, sebagai ibu rumah tangga.
Tidak sedikit yang malah berpikiran buruk, salah satu ciri orang pesimis, menganggap semua yang masuk jadi pegawai negeri membutuhkan ratusan juta rupiah, lobby orang dalam dan lain lain. Menurutku, kadang mereka yang menganggapku masuk dgn cara yg tidak baik malah lebih tidak baik lagi dari mereka yg benar benar memang masuk dg cara yang tidak baik. Aku tidak akan mengadaikan akhiratku dg hal seperti itu, insyaallah. Coba dipikir, kalau masuknya saja tidak halal, bagaimana dengan uang gajinya, yang kelak akan dimakan dirinya, keluarga dan anak anaknya? Makan uang haram seumur hidup?
ada sebuah kelakar, punya NIP itu bukan Nomor Induk Pegawai tapi Nrimo Ing Pandum. Alias puas sajalah dapat gaji kecil. hehe...
Dalam ujian masuk PNS kebanyakan yang tersaring adalah orang yang cerdas secara ilmu pasti. Padahal diperlukan orang orang yg menurut diri mereka, mereka adalah orang orang yang kritis, yang idealis. Semoga ini cuma pikiran sempit ku, sepenglihatan ku, yang jd PNS kok kebanyakan mereka yang diam, rajin, pintar secara akademis.
Mari coba dibayangkan, kalau yang masuk PNS itu adalah manusia manusia macam Munir, macam anda misalnya, pasti akan lain jalan ceritanya. Apalagi kalau di dunia per`PNS`an menjamur paham idealisme dan manusia manusia idealis. Pasti menarik.
Aku yakin!
Hidup Baru
Haha, Amien..
Akhirnya, aku punya keinginan untuk menulis lagi. Tiga tahun sudah aku tidak melakukan ritual menulis, kecuali di buku diary. Buku diary? Yap. Sedari umur delapan tahun aku sudah punya buku diary, jadwal kegiatan sehari hari dan daftar resolusi. Tiga hal yang kubutuhkan sesuai dengan piramida Maslow. Sampai sekarang.
Bagiku, tulisan adalah tempat refleksi. Tempat dimana kita bisa mempelajari diri kita sendiri. Tempat dimana sebuah kedalaman yang tidak semua orang mampu untuk menyelaminya. Sesuatu yang aku sebut sebagai : Rumah.
Aku tak menyesal mempunyai pekerjaan seperti saat ini. Walau keinginan terbesarku dulu adalah menjadi seorang jurnalis merangkap penulis lepas. Tetapi sekarang aku mempunyai lebih banyak waktu untuk menjadi seorang pembelajar. Menjadi pembaca yang baik, dan dengan bekalku sebagai pembelajar dan pembaca itulah, aku yakin aku mampu menjadi seorang penulis. Kenapa harus menjadi seorang penulis? Karena manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan merubah. Ingat kata kata `agent of change`? merubah, serta saling mengingatkan. Karena sebenarnya verbal yang kupunyai sangat buruk, maka aku pilih jalan menulis. Jangan dikira aku manusia suci karena berniat merubah dan mengingatkan. Sudah kubilang tadi, tulisanku adalah salah satu hal dimana aku bisa merefleksikan diriku sendiri dan belajar pada kata kata yang kutulis.
Dan ketika aku mati kelak, setidaknya ada hal yang tertinggal dariku selain kuburan. Selain juga ingatan kalian tentang aku.
Selamat menikmati kopi kalian dan tulisanku.
Saturday, March 15, 2008
Filosofi Pencarian
Entah mengapa tiba-tiba saja aku tertarik untuk menulisnya.
Mungkin karena aku tak juga beringsut dari keakuanku. Atau karena aku tak berani melangkah menjauh dari Ranny yang me-Ranny. Jika aku berkata demikian, pasti kalian ingat Ahmad Wahib bukan?
Jam belum genap merambat angka duabelas. Ah, mengapa malam ini terasa sendu sekali. Satu pertanyaan yang dari dulu mengiringiku adalah, sebenarnya apa yang aku cari. Dan sebenarnya layak atau tidak untuk aku hidup. Sekali lagi, ini pertanyaan filsafat yang paling mendasar. Aku benar-benar menyukai pertanyaan ini.
Dan terkadang aku tak mampu untuk menjawabnya.
Pada hari kemarin sempat aku melontarkan sebuah ucapan kepada seorang teman. Bahwa masa-masa pencarian jati diri (pencarian keakuan?)-ku bukanlah masa SMA seperti orang bilang. Waktu mencari adalah adalah sepanjang apa nafas masih mengimbangi pikiran. Jadi, selama aku bisa hidup, mungkin selama itu pula ritme masa pencarian keakuan-ku akan berjalan secara dinamis, semoga.
Terkadang aku sangat benci untuk mengintimi enam huruf yang bersatu menjadi kata : proses. Aku benci untuk berpura-pura aku menghormati proses sebagai bagian dari tujuan. Aku malu untuk mengakui bahwa aku produk masa kini yang ingin semua serba instant, serba praktis.
Dan inilah filosofi pencarian. Yang masing-masing dari kita terkadang tak mampu menjabarkannya. Terlebih aku. Yang adab kebebasan berpikir ku pegang erat. Bahkan aku juga membenci kata definisi dan deskripsi, yang memenjara keragaman pikir. Biarlah orang belajar ketidaksamaan mereka atas segala sesuatu. Termasuk dalam bertuhan kukira.
Pencarian dan tujuan. Dua hal yang tak terpisahkan. Untuk mencari tuhan kita rela ber-ritual, untuk mencari kehidupan yang nyaman, kita rela mengadai diri dengan idealisme pikir. Dan, untuk memperoleh ijazah aku rela disebut mahasiswi yang ‘menuntut ilmu’.
Hari kemarin, ada lelaki yang berani berbohong dan bersumpah demi Tuhan untuk mencari kepuasan seksualitas. Dan pertanyaan berlanjut. Sebenarnya ada berapa tingkatan dalam pencarian?
Pencarian dan eksistensi. Juga tak bisa terlepas begitu saja. Dari dulu frame otakku sering membentuk pola mengenai eksistensi, kaitannya dengan self esteem-nya Maslow. Tujuan dari apa yang kita cari sangat erat dengan eksistensi diri. Aku tak memungkirinya. Mencari pasangan, mencari pekerjaan, pencarian kebutuhan untuk dihargai orang lain, mencari kehidupan yang lebih baik misalnya. Dan tak jarang kita mencari celah kebohongan agar bisa disebut exsist. Aku ingat ucapan seorang lelaki, ia membilang, Ran, aku cuma ingin pacaran sama cewek-cewek cantik karena dengan begitu orang-orang tak akan meremehkanku sebab cewekku cantik. Inilah eksistensi, yang orang bisa saja menjadi hewan untuk bisa disebut exist.
Jadi, apa sebenarnya yang kita cari?
Friday, February 29, 2008
Perihal Mati
Aku mengimani kalimat ini, yang paling dekat dengan kita adalah Kematian.
Setelah beberapa sahabat purna dengan tugas mereka di dunia, ada hal yang sedikit asing mengelitik di sudut harmoni. Antara mati dan sebuah totalitas.
Aku sungguh-sungguh tak ingin mati muda. Tetapi kalau tuhan menilaiku tak layak lagi mendiami bumi ini, lantas apa kuasaku? Hari kemarin aku begitu terperangah melihat dua kawan yang terbiasa kupanggil : seorang baik, meninggal di usia yang relatif muda. Yang terbersit pertama kali adalah : Ah, lelucon macam apa ini?
Kemudian nalar membawaku pada sebuah kedalaman pikir. Bahwa mati muda, mati tua itu bukanlah urusanku sebagai sesuatu yang bertitel manusia. Yang menjadi masalah adalah, apakah totalitas menjadi temanku selama ini? apakah kemanfaatanku sebagai bagian dari kehidupan sosial adalah sebuah realitas, bukannya sekedar wacana?
Tersebut ia Elly. Teman satu kampus yang beberapa hari lalu meninggal. Tak genap satu bulan ia wisuda, ku-terakan padanya label mati muda. 23 Tahun. Umur yang sama denganku. Tetapi aku melihat pada dirinya sebuah keberartian. Yang mungkin fase itu belum bisa kumiliki.
Mati tua tapi tak memperoleh apa2, atau mati muda tetapi dalam hidupnya ia begitu mengenal dirinya sendiri dan mengerti apa yang akan apa yang dimaui-nya. Itulah yang kusebut keberartian. Mengisi dengan padat hidup yang singkat dan memetakannya menjadi alur yang berisi. Sekali lagi, bukan masalah rentang waktu!!
Tetapi kalau boleh berharap, aku masih ingin mati tua. Rasanya dingin sekali menunggu kiamat di lubang lahat.
Sunday, February 10, 2008
Lantas Latah Menjadi Islam
Maaf sebelumnya, karena mengumbar kecintaan pada Tuhan. Menulis juga karena ingin bercermin dari tulisan-tulisan sendiri.
Saya bukan penganut Muhammadiyah, NU ataupun Ahmadiyah. Bukan Sunni pun Syiah. Tidak Islam kiri dan Islam kanan. Bukan abangan, bukan pula putihan. Bukan golongan liberal atau golongan radikal. Saya bukan apa-apa. Mudah-mudahan inilah yang disebut Islam. Kalaupun termasuk golongan Ahlus Sunnah, biarlah Tuhan yang memasukkan kedalamnya. Tidak ada keberanian untuk meng-klaim diri seorang Ahlus Sunah. Memangnya siapa saya?
Sebagai manusia yang selalu bergerak dalam mencari Ada; Deo; Tuhan; Allah, saya ingin mengimaninya (semoga) secara berkesadaran. Ingin ber-islam bukan hanya karena warisan buangan, melainkan benar-benar berkesadaran sebagai islam. Menerima mentah-mentah ajaran islam untuk kemudian mengkajinya. Dari sini, jangan sekali-kali menghakimi : bahwa langkah itu terbalik. Sungguh, saya merasa mempunyai aturan sendiri yang mungkin tidak terpahami oleh orang lain. Kalau seorang kawan men-klonklusikan : saya seorang eksistensialis, saya akui.
Berbicara tentang eksistensialisme, sekarang sedang tertarik dengan tiga paham yang melandasi pemikiran Ali Syari`ati. Mistisisme, Sosialisme, Eksistensialisme. Pada mulanya agak kurang tertarik dengan Syari`ati. Eksistensialisme Syari`ati sangat berbeda dengan Sartre, saya juga sedang belajar mengenainya, Syariati lebih condong pada ketuhanan, sedang Sartre tidak.
Memandang agama sebagai jalan. Biarlah disebut konvensional bahkan feodal. Maaf, saya juga bukan seorang sekuler. Hanya bisa memahami agama sejauh yang diketahui. Entah mengapa, tuhan membelajari saya melalui dua hal: sikap dan buku. Awalnya adalah sikap orang tua dalam beragama. Mereka tidak sekalipun mendikte mengenai agama. Mereka ingin saya berkesadaran. Sungguh, mereka guru agama yang mengajari tanpa doktrin, tanpa kata. Dan kegemaran ayah ibu terhadap bacaan. Dua buah pijakan yang kuat untuk melangkah. Melalui buku pula saya semakin merasa ber-Islam. Terlebih saat masa SMA, buku-buku intelektual Muslim Mesir dan Iran selalu ada di tas. Agak kurang tertarik dengan cendikiawan Arab, Irak, pun Indonesia. Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya juga sedikit banyak telah mematri di otak. Hingga saat ini. Saya memandang dia sebagai manusia yang tahu kata : keberimbangan. Antara hablumminaallah dan hablumminannas. Vertikal dan horisontal. Tak melulu melaksanakan ritual penyembahan, Islam bukan hanya sekedar itu.
Mengapa secara berkesadaran memilih Islam sebagai agama yang tertera-kan di KTP? Semoga bukan hanya kebetulan karena berayah-beribu muslim, sehingga lantas latah menjadi Islam. Sungguh, saya ingin banyak mengenal agama lain. Sayangnya, sampai saat ini belum mempunyai kawan seorang Yahudi. Sedikit ingin mengetahui langsung agama ini. Mencoba mengenal agama lain dengan berteman dekat dengan kawan yang beda agama, membaca ajaran mereka seolah-olah itu adalah sebuah kebenaran, memahami kalau seandainya saya adalah mereka, adalah beberapa cara belajar agama lain. Walau jalan berteman itu adakalanya tidak merefleksikan keseluruhan agama, menyangkut subyek individunya sendiri.
Mungkin Tuhan tahu benar bahwa saya lebih baik hidup di Jawa, yang mayoritas Islam. Sepuluh hari di Bali, benar-benar tinggal di kost anak Bali yang beragama Hindu, aduh, benar-benar tidak kuat. Makan harus berhati-hati halal atau haramnya, masalah najis dan kebersihan, tempat ibadah dan rasa tertekan menjadi minoritas sangat terasa di Bali. Membayangkan, bilamana menjadi minoritas di Jawa. Sungguh sangat tidak menyenangkan. Saya selalu ingin menempatkan diri pada posisi orang lain dalam memperlakukan orang, termasuk mengandaikan diri menjadi minoritas. Pluralisme dengan batasan merupakan satu titik pencapaian.
Mengartikan Islam bukan hal yang mudah. Bagi saya, sampai saat ini, Islam adalah yang dirasa paling dapat mengakomodasi kebutuhan pencarian terhadap entitas bernama : Ada. Berani ber-Islam adalah berani mengimani keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Walaupun fase hidup pernah mengantar pada keadaan menjadi seorang jilbaber, dan sekarang berpakaian yang memperlihatkan sebagian kulit, tidak ada penyangkalan bahwa jilbab diperlukan sebagai pelindung. Penyangkalan akan lebih mementahkan keagamaan seseorang dengan melakukan pembenaran dan pencarian alibi, ini menurut ilmu psikologi. Tapi inilah bukti kesempurnaan manusia, ada nafsu untuk membangkang. Dan jika orang lain tidak setuju akan poligami, saya tidak masalah dengan hal ini, dengan banyak catatan. Jadi, buat apa mengakui Muhammad sebagai Utusan Tuhan kalau mengingkari poligaminya. Menganggap poligami sebagai ‘hanya patut dilakukan Muhammad karena ia bisa mewujudkan bagaimana itu adil dengan dekat’. Muhammad masih manusia toh? Dan kita juga manusia. Saya malah memandang poligami Muhammad sebagai sebuah kesempurnaan. Bukankah manusia itu selalu punya dua sisi. Ah, kalau Muhammad juga dianggap Tuhan seperti Isa dianggap sebagai Tuhan, bilamana jadinya ya? Tidak bisa membayangkan. Berbicara mengenai Muhammad, saya sedang dalam fase mencoba untuk lebih dapat mengenalnya. Entah mengapa, kecintaaan terhadapnya masih terasa amat sangat kurang. Selama ini, hanya doktrin guru-guru agama yang mencoba masuk di pikiran. Sabda Muhammad sedikit banyak telah dipelajari. Tapi frekuensinya tidak sebanyak seperti saat membelajari ketauhidan.
Semoga kita yang mengaku beragama, merasa betul mempunyai agama. Sehingga pilihan atas ke-beragama-an kita bisa dipertanggungjawabkan sebagai sebuah bentuk kedewasaan. Saya ingin mementahkan pendapat bahwa seorang atheis adalah yang paling banyak memikirkan tuhan. Tidak hanya atheis, seorang theis juga. Semua orang sebenarnya banyak memikirkan tuhan. Dengan cara yang berlainan. Pemabuk saat memegang vodka, pelacur saat bersenggama, misalnya. Dan inilah cara saya, dengan kesederhanaan saya. Semoga makna keberimbangan betul-betul bisa dimaknai di dataran teoritis, untuk kemudian dilaksanakan pada ranah praksis.
Monday, January 14, 2008
Budjana, Gigi, Infotainment, dan Saya
Gimana kabar Soeharto? ujar Budjana membuka Press Conference malam itu, 11 Januari 2008, tepat pukul 12 malam di Hotel Santika. Satu jam sesudah konser di kota kenangan, Jogjakarta.
Saya pun tersenyum mendengarnya, setengah ngikik. Bagaimana tidak, satu jam ikut berkumpul dengan wartawan infotainment dari berbagai media cetak dan media elektronik nasional, pembicaraan mereka memang tidak lepas dari kondisi Soeharto yang sedang dalam masa kritis malam itu. Tentu artis-artis seperti Budjana tahu betul kalau wartawan-wartawan ini up to date masalah pergosipan. Dapat disimpulkan, mereka ikut-ikutan repot seperti trah Cendana yang lain. Bagaimana tidak, beberapa diantaranya setelah meliput konser Gigi, harus mendapat kepastian apakah Soeharto jadi meninggal atau tidak, kalau iya, mereka harus bersegera pindah posisi ke Karanganyar. Celutukan-celutukan yang sarkas tentang Soeharto kerapkali terdengar. Para pewarta infotainment ini juga saling bertukar informasi tentang Soeharto. Ada salah satu mbak-mbak berjilbab yang nampaknya hafal betul riwayat pergosipan Si Soe ini sampai ke keponakan-keponakannya dan bumbu-bumbunya.
Beberapa dari mereka nampak kelelahan, dan omongannya pun semakin merancau menyudutkan Soeharto, bukannya mendoakan Bapak Tua itu untuk cepat sembuh, tapi mengumpat ia agar segera menghadap sang Gusti. Wah, tentu saja saya yang belum pernah se-intim itu dengan wartawan infotainment cuma senyum-senyum nggak jelas. Yang secara kasat mata terlihat smart itu wartawan dan kameramen dari Trans TV. Yang lain? Saya nggak bisa menjamin.
Yang pasti, saya puas sekali atas konser Gigi malam itu. Two Thumb up for them plus dua jempol kaki saya deh. Saya melihat, di Indonesia yang komposisi pemainnya semua kelas atas ya cuma band Gigi ini. Armand Maulana selalu tampak atraktif dan vokalnya tidak kedodoran walau tingkahnya kayak kucing kejepit kesana-kemari. Thomas Ramdhan, bassist paling saya gemari di Indonesia ini tentu tidak ada yang mensangsikan keandalannya. Dewa Budjana? Inspirator saya nomor satu untuk belajar gitar ini tak usahlah dikasih komentar. Siapapun tahu kualitas musikalitas dia. Dan Hendy? Aha, baru kali ini saya mengetahui betapa bagusnya permainannya diatas panggung secara live. Mantap!!
Tiga kali sudah saya melihat konser mereka di Jogja. Selalu mengesankan. Walaupun rating super groupband di Indonesia nomor satu menurut saya tetap Slank, tetapi Gigi juga mempunyai tempat tersendiri. Mungkin bagi semua orang yang melihat konser Gigi malam itu, mereka akan menyisihkan sebagian memorinya untuk mengingat kepuasan mereka atas konser tersebut. Seperti halnya Gigi mengingat Kota Jogja sebagai kota yang spesial. (Jokja memang istimewa untuk kita, yang pernah mengenalnya...).
Duapuluh lagu dibawakan Armand cs hampir tanpa jeda. Beberapa diantaranya dibawakan secara medley. Kebetulan ada seorang teman yang baik hati memberikan sebuah kartu sakti sehingga saya bisa memelototi Budjana dari jarak satu meter di backstage (thx Dipt, walo aku harus rela dicela habis2an dulu...). Sengaja saya nggak mau olahraga mata mengikuti gerak Armand, tapi terpusat pada dua tangan Budjana. Seseorang yang plural, dalam dan menarik. Walau dia kalau ngomong kadang tanpa filter dan orangnya jahil, pas ditatap dia, aduh, mau mati rasanya. Ah, berlebihan. Mungkin karena terlalu mendramatisir dengan mas Budjana ini pula, foto saya bareng dia ancur jadinya. Tuhan nggak mau saya sombong karena pamer, ucap saya mendamaikan hati.
Kesimpulannya? Saya nggak mau jadi wartawan infotainment. Dan saya puas sekali dengan konser Gigi malam itu. Oya, Budjana still inspired me. So so deh....
Ps : sayangnya senar gitarku belum bisa saya ganti. Senar seharga limapuluh ribu pun tak kuat saya membelinya sekarang. Aduh skripsi, kamu bikin aye kere. Ada yang mau ngasih kado senar gitar di ultah saya yang beberapa hari lagi? Hahaha...
Tuesday, December 18, 2007
Tiang Pancang
Aku takjub kepada mereka yang mengenal arti kata totalitas, kerja keras dan terfokus. Yang menggilai ketiga kata ajaib itu. Hal ini tentu ada alasannya. Pertama, karena dalam hidup aku belum pernah sekalipun total dalam sesuatu (termasuk beragama), dan yang kedua, aku sedang tertantang untuk total dan fokus terhadap sesuatu.
Kupikir hidupku selama ini hanya satu kata yang bisa mewakilinya : suka-suka. Sesuka aku mau ngapain, nggak ada yang pernah (dan yang bisa) melarang aku untuk hal yang aku kerjakan. Termasuk kedua orangtuaku. Bukan karena aku membangkang pada mereka, tetapi karena kedua orang itu, dimana hanya pada mereka aku bisa tunduk, nggak pernah ngasih batasan. Cuma dan hanya mencontohkan diri mereka, terserah aku mau meniru mereka atau nggak. Enak bukan?
Kenapa aku bilang suka-suka? Sampai umurku yang udah 22 tahun, jarang aku merasa sedih. Hal terberat dalam hidupku hanya sewaktu aku difitnah teman sendiri karena dukun. Jarang kuliah tapi tutup teori cepat, skripsi dapat yang mudah. Punya banyak teman. Kerjaannya senang-senang. Dan membayangkan, apa yang akan aku dapat nanti dari Tuhan kalau selama ini hidupku cuma buat ketawa aja.
Dan ternyata semua itu melenakan.
Ternyata dalam hidup, aku belum sekali pun bekerja keras. Aku tak mengerti itu totalitas, kerja keras, terfokus dan konsentrasi. Bahkan aku hormat pada mereka yang selalu memposting tulisan mereka di blog secara kontinyu dan teratur. Tulisan ini mungkin nggak mutu buat yang baca, tapi buat aku, inilah tiang pancang!
Friday, September 7, 2007
Kidung Lelah buat Kamu..
Ya, begitulah adanya. Aku sudah lelah dengan perasaan yang telah aku bentuk sendiri. Baiklah, jika pesan-pesan pendek itu belum menjelaskan semuanya, mari bantu aku menjabarkan.
Bahkan aku binggung harus mulai dari mana.
Sejujurnya, aku pernah mempunyai obsesi menjinakkan lelaki bangsat sepertimu. Jangan dikira pertama kali melihatmu, aku tak bisa membacamu. Aku menyukaimu, in esentia. Bukan secara eksistensia.
Malam itu, malam kau ingin mempersenggamai-ku silam, kau membilang padaku, bahwa kau mempunyai sebuah labolatorium-mu sendiri kena kehidupan. Pun aku. Pun aku tentunya, A. Aku adalah kelinci percobaanmu yang gagal untuk kau cobai. Dan kau? Bagiku, kau hanyalah orang yang berada di tempat dan waktu yang salah sehingga secara tak sadar aku telah menyeretmu kedalam labolatorium esensia dan eksistensiaku. Aku tak berbakat menjadi penjabar, mungkin pula tulisan ini nanti tak akan memuaskanmu.
Apa yang kau inginkan dari-ku?, ujarmu dari pesan yang kau kirim. Ah, memangnya apa yang kau punya? Aku hanya butuh esensi yang kau miliki. Aku butuh penggambaran. Sudah berulang ku kata kepadamu, bahwa semua yang terlaku berpijak pada ketidakberharapan apa-apa. Dan salah kalau kau menginginkan sesuatu dariku.
Kau benar, amarah itu belum mereda.
Aku sudah terlalu jauh bermain-main dengan hatiku sendiri. Seperti sudah keasyikan sendiri. Sebenarnya aku tak ingin mengikutsertakanmu dalam permainan ini, A. Aku ingin bermain sendiri. Kau sendiri yang lantas memainkan serta peranmu. Kau laki-laki, mudah tergoda.
Semua ini terjadi hanya karena aku terlalu menghayati sebuah pemaknaan. Kalaulah boleh jujur, aku sendiri pun ragu, apakah pernah perempuan lindap satu ini menyukai seorang lelaki. Aku ragu, apakah semua yang kulakukan padamu memang hanya sebuah kamuflase murahan.
Kau tahu, A. Semua yang terkata kepadamu dari mulutku, beberapa diantaranya adalah siratan kata. Dan rupanya kau tak mampu menterjemahkannya. Kau memang bodoh rupanya. Sekali lagi A, kau harus berhati-hati terhadap wanita sepertiku. Mungkin, akulah mautmu. Bisa jadi pula, aku jalan pulangmu.
Ah, penismu terlalu kecil rupanya. Sehingga kau pun harus mengesek otot itu pada setiap lubang garba. Bukankah otot akan membesar jika sering dipergunakan. Toleh ke tangan kanan dan tangan kirimu, A. Kau tak kidal, jadi tangan kananmu lebih besar daripada yang kiri. Pembelajaran otot ini yang kau terapkan untuk membesarkan penismu yang kecil itu, A. Ini amarahku. Ini lelahku. Wajar kalau aku berkata seperti ini. Boleh kutanya, siapa wanita yang paling memuaskanmu secara seksualitas?
Aku suka lelaki yang bermasalah seperti kau. Dengan pikiranmu yang me-rumit. Tetapi rupanya kau terlalu berpusat pada dirimu sendiri. Kau banyak membaca tapi sebenarnya tak mengerti apa-apa yang telah kau baca. Aku menghakimimu? Sudah kubilang, malam terakhir kita mengirim pesan itu, baru aku bisa menilaimu.
A, aku memanggilmu dengan sebutan bangsat tampan dan cah elek. Kau tau mengapa? Sebab ada dua sisi darimu yang aku ingin ketahui. Kau sadar bahwa dirimu menarik secara fisik, dan itulah kelemahanmu. Walaupun kau kalah jauh tampan dengan lelaki-lelaki yang kupunyai sebelumnya, A, tetapi aku suka senyum bangsat dan matamu. Bahkan mas Fahri bilang, seleraku rendah dan levelku turun dengan mengharapmu. Justru karena itu, aku tak mau lagi dekat dengan lelaki-lelaki putih dan rupawan yang tak memuaskanku. Aku sudah terlalu bosan dengan lelaki jenis ini. Lembek, tidak liat.
Sudah setahun aku mempetualangimu. Sudah setahun aku kesakitan atas perbuatanku sendiri. Sudah terlalu jauh pula catatan tentangmu melampaui batas kertas yang kupersiapkan untuk fase aku menyukaimu. Sudah saatnya aku mengganti dengan lelaki lain, yang tentunya A, tidak sebangsat kamu.
Ada sebagian kecil bahwa kau juga telah kupermainkan dengan kata-kata yang terlontar. Kau bilang kau belajar bermetafora dariku. Dan kau sendiri, adalah bahan pembelajaranku. Seharusnya kau bisa mengeja apa yang kukata. Kau harus belajar banyak tentang hidup. Ingin sekali kuteriakkan ini dikepalamu. Biar sekalian saja meledak.
Perubahan sikap yang ada saat ini, mungkin kau telah marah karena tak bisa menjinakkanku perempuan bangsat satu ini yang mungkin sama pula sebangsat kau. Aku satu-satunya wanita yang menolak untuk kau setubuhi kah? Hahaha.., bersetubuh memang mudah, tapi tidak dengan ekornya yang akan terus melingkupi jika aku melakukannya. Sebab pula, dalam hidup, pelajaran yang baru kupelajari adalah bagian pengendalian diri, A. Seharusnya kau tahu itu. Sekali lagi, kau masih harus banyak belajar.
Kini, tak akan ada lagi yang akan mencemoohku karena menyukaimu. Mereka kini telah bisa menepuk dada mereka dengan jumawa sebab dikiranya aku bisa menjauhimu karena pengaruh mereka. Tak mudah bagiku melupakan lelaki yang paling aku sukai dalam hidup. Tetapi roda harus tetap berjalan. Tuhan selalu memberi apa yang aku pinta. Tetapi tidak untuk kali ini. Tidak untuk memberimu kepadaku.
Kau sudah berselingkuh denganku, A. Kau tidak bisa memungkirinya. Dan kau bilang perempuanmu tidak mengetahui semua yang telah kau lakukan. Ah, aku ingat, kau masih berhutang padaku, untuk memperkenalkan perempuan itu padaku. Katamu, biar aku bisa mengejeknya. Mungkin karena kau lebih memilih pulang ke perempuanmu daripada memilihku.
Baiklah, pada akhirnya aku bisa membilang, bahwa kau-lah lelaki yang paling kusuka selama ini dalam hidupku. Kau ingat kau pernah menanya hal ini padaku kan? Ini jawabanku. Aku akui. Aku tak pernah menyesal melakukan semua hal yang telah kuperbuat terhadapmu. Kau lelaki indah dengan banyak kekuranganmu itu.
Kini aku sudah menekuk lututku. Tanda aku tak mampu meneruskan perjalanan ini..
Kini, Saya Seorang Buruh!!!
Banyak orang yang mengaku sebagai bagian dari apa yang dirasakan oleh para buruh di negara antah-berantah berjudul Indonesia ini. Dan sekarang, saya bisa bangga membilang, saya tahu pasti apa yang mereka jalani. Tentu tak bisa begitu saja berkata banyak, jika belum mencoba.
Jadi, alhasil sekarang saya menjadi seorang buruh. Benar-benar terjun menjadi buruh pabrik di tempat saya kerja praktek. Sebenarnya bisa saja saya hanya sok mengamati dan sok keminter dengan hanya di labolatorium produksinya saja. Tetapi tentu saja itu bukan Ranni muda yang saya kenal.
Hari pertama, sudah mengeluh dengan rasa kelu di kaki karena berdiri tiga jam. Hari-hari selanjutnya berjam-jam kontinyu menjadi buruh, alias operator bahasa jamaknya di dunia Industri. Memasukkan pintalan benang di mesin auto winding, membersihkan mesin spinning, memeriksa kualitas Ne di labolatorium, mengetahui seluk beluk mesin-mesin lain semisal drawing dan carding, dan menangani re-use waste.
Kesimpulan yang didapat : banyak pabrik di Indonesia tidak memanusiakan para buruh!!! Kebetulan saya kuliah di teknik industri sehingga sedikit banyak mengetahui mengenai ergonomi dan standar kenyamanan kerja.
Di pabrik tempat saya kerja praktek, kebetulan BUMN, tidak bisa dibilang ideal untuk kondisi pabrik yang baik. Cecurut masih saja nyelonong saat pemberian materi di ruang senior supervisor. Kantor disana terkesan kotor karena mungkin sudah berpuluh tahun tidak diperbaharukan segala sesuatunya. Debu yang beterbangan, AC mati, kebisingan yang mungkin sangat amat melebihi batas desible yang diharuskan, getaran lantai produksi yang diluar batas, kelembaban yang tinggi dan masih banyak lagi yang bikin anda serasa tidak menjadi manusia didalamnya. Standar kenyamanan kerja tidak diterapkan lagi.
Para buruh disini sudah terbiasa dengan keadaan. Atau mungkin menurut saya, memaksa diri untuk memperbiasakan keadaan itu. Secara teori, mereka harus menggunakan penutup telinga dan wearpack serta AC dan penyedot debu harus selalu dinyalakan. Alasan direksi, mereka harus menghemat biaya listrik dan biaya produksi agar perusahaan tidak selalu merugi. Di pabrik ini, komputer hanya ada satu dua. Bahkan bagian produksi tidak ada komputer. Para supervisor produksi pasti membawa kalkulator di saku celana atau baju mereka. Menghitung kecepatan spindle, kerugian dan urusan mesin yang harus selalu dihitung semisal ada kerusakan. Masih manual. Bahkan saya sering heran melihat orang-orang labolatorium yang setiap hari harus mencatat, menghitung, menganalisa kualitas dan kecacatan produk hanya dengan pena, kertas dan kalkulator. Setiap hari. Coba hubungkan hal ini dengan absurditasnya Camus.
Pak Mar, sang senior supervisor berseloroh melihat saya dan kawan-kawan sudah tewas berdiri beberapa jam. Lha operator itu bekerja delapan jam sehari hanya istirahat setengah jam saja mereka tidak berdiri, paparnya. Hah? Padahal mereka harus mondar-mandir dari pojok mesin satu ke pojok yang lain. Bahkan para supervisor dan senior supervisor juga harus berkeliling berjam-jam pula.
Penyakit yang timbul akibat tidak memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan kerja ini, tidak main-main. Telinga pekak dan asma merupakan contohnya.
Upah mereka? Jangan ditanya. Semua sudah mengetahui rahasia ketidakadilan ini. inilah mungkin yang menjadi dilema saya dan beberapa anak teknik industri. Satu sisi kita dituntut untuk menurunkan biaya produksi dan mengoptimalkan hasil produksi, disisi lain, tentu kita masih banyak membaca buku-buku mengenai sistem perburuhan di Indonesia yang memberat sebelah.
Jadi, bagaimana idealisme tak membentur kenyataan, inilah tantangan.
Dan Budaya yang Menghukum Perempuan Dari Penampilannya
Ada yang mengelitik di sebuah buku yang baru saja saya baca. Bahwa kelak, perempuan akan terangsang jika melihat tubuh perempuan lainnya ataupun tubuh dirinya sendiri. Sebenarnya penyebab hal tersebut bisa dikata sepele bagi sebagian orang. Banyaknya ekspos media, individu dan oknum lain terhadap tubuh perempuan yang sangat berlebihan. Jadi anda kaum lelaki, jikalau nanti bersetubuh dengan istri anda kelak, mungkin anda harus membawa poster besar aktris porno kegemaran anda. Tubuh anda mungkin tak lagi mempan membuat para perempuan menoleh. Takutnya, ini berimbas pada semakin banyaknya lesbian. Atau banyaknya lelaki yang beralih menjadi gay karena bosan melihat tubuh perempuan. Terserah sih, menjadi lesbian, gay atau tidak keduanya. Toh itu sebuah pilihan.
Sebagian besar perempuan kini jarang mengalami orgasme saat berhubungan badan dengan lelaki. Mereka lebih puas saat mereka masturbasi dengan mengesekkan tangannya ke klitorisnya. Apakah ini semacam narsime model baru? Ah banyak opini mengenainya. Yang pasti, dari banyak sumber yang saya baca, perempuan terangsang dengan sentuhan. Berbeda dengan lelaki yang mungkin adalah seorang makhluk visual.
Iya sih, kadang jenuh sendiri, kenapa harus foto-foto perempuan telanjang terus yang sering menjadi obyek. Itu kan hanya memuaskan lelaki. Saya tanya sekarang, apakah lingkup dunia ini hanya untuk memanjakan lelaki? bolehlah saya memprotes dengan cara saya ini. kalau perempuan lain menuntut persamaan, kini saya minta persamaan dalam masalah pertelanjangan ini. Mari para pengiklan, anda ciptakan iklan oli mobil dengan lelaki yang hanya memakai cawat saja, bukan perempuan dengan belahan dada yang membuat jakun lelaki naik turun. Kan lebih dekat hubungannya dibanding dengan bintang iklan cewek. Atau, mari membuat baliho besar dengan Christian Sugiono sedang memakai celana boxer makan mi instant.
Karena tubuh perempuan indah? Ah, alasan apa pula itu. Sangat tidak masuk akal. Tubuh lelaki indah juga kok. Semua itu kan dari sudut pandang mana kita melihat. Dalam sebuah acara Oprah, pernah disebutkan anak-anak perempuan yang merasa jelek karena ibu-ibu mereka merasa dirinya jelek dan mengutuki keadaan mereka. Media dan para pengiklan makin gencar mengkampanyekan sebuah tubuh yang ideal menurut penggambaran mereka. Yang ujung tujuannya adalah, tentunya : kapitalisme.
Inilah budaya yang menghukum perempuan dari penampilannya. Teori darwin berlaku dalam hal ini. Anda jelek dan tidak menarik, silahkan mengasingkan diri kedalam dunia manusia aneh. Bahkan banyak perempuan yang dipecat karena masalah penampilan. Kelebihan dua kilogram pun bisa menjadi alasan seorang atasan untuk memecat bawahan perempuan.
Jadi? Silahkan anda berkesimpulan sendiri.
Keep Thinking.
Tahu Apa Kau Tentang Aku.
“Sudah nggak jaman jadi idealis, mati aja kalo hanya makan idealisme”
Lantas percakapan kita mengarah pada kesimpulan satu arahmu : aku terlalu idealis. Idealis yang mana? Aku masih makan American Favourite Cheesy Bites kegemaranku, aku masih suka memakai krim perawatan salon kecantikan padahal aku sudah berulang membaca mitos kecantikannya Naomi Wolf, bahkan aku masih saja menghambur-hamburkan uang orangtua untuk sebuah kegemaran hedo.
Yang mana?
Kau tahu lelaki, bahkan aku menjuluki diriku sebagai seorang realis sejati. Idealismeku berawal dari kehidupan riil yang nampak olehku. Sebab itu apa yang aku lakukan, semua pada ranah yang nyata, masih membumi, yang berarti: tidak melangit. Wajar bukan, kalau aku keberatan dengan penghakimanmu itu.
Baiklah. Aku tahu kau berpendapat begitu karena sebuah pilihan yang nyana telah aku pilih. Ihwal sebab aku memutuskan untuk tidak berpacaran, bukan. Ah, kau terlalu dangkal kali ini. Salahkah jika yang aku ambil jalan itu? Aku lebih realis daripada dirimu, yang masih saja terpekur melihat perempuanmu pergi bersama lelaki-lelaki lain di depan matamu. Bukankah lebih banyak alasan mengapa aku memang belum seharusnya berpacaran daripada alasan mengapa aku harus berpacaran? Minta dijabarkan? Sebab aku tak ingin bersetubuh di luar nikah, sebab aku ingin menjaga diriku untuk suamiku nanti, sebab aku konvensional, sebab sudah seharusnya aku belajar dari teman-temanku yang diperkosa lelakinya. Itu belum menjelaskan semuanya memang. Aku malas, kalau pun sudah dijelaskan, lantas apa pula pedulimu?
Aku ingat pernah membilang kepadamu, mengenai seorang kekasih pada waktu awal kuliah. Aku tak bohong tentangnya. Hanya saja, aku lupa menambahkan, ia kudapat karena taruhan dengan kakakku. Jangan menghakimi aku perempuan brengsek karena mempermainkan kaummu. Ia tahu, dan ia menerima keadaan itu. Ah, hubungan lima hari, sore ini aku mengingatnya lagi. Dan aku tak pernah menganggap ini sebagai sebuah relationship per-kekasihan. Ini hanya sebuah kekhilafan.
Mungkin kau juga heran, aku juga tak pernah mau berpacaran dengan lelaki-lelaki yang kusuka. Dua orang itu mempunyai kekisah yang berbeda. Yang satu menyatakan kecintaannya yang sangat amat, tetapi berpegang pada ke-realisme-anku, aku tak mau. Yang kedua, jauh-jauh sebelumnya aku sudah membilang pada sahabat-sahabat kaum adam, kalaupun dia memutus pacarnya dan beralih padaku, aku nggak bakalan mau. Tetapi yang kedua ini hanya ingin memperkosaku. Monyet goreng, umpatku. Ya, waktu malam itu aku sms kepadamu mengenai persetubuhan yang kutolak itu mengenai lelaki satu ini. dan kau pun melarang aku melakukannya. Apakah itu bukti rasa memilikimu terhadap aku?
Kau ingin aku menjaga “itu”. Katamu, kau juga ingin memiliki perempuan sepertiku sebagai istrimu. Padahal kau seenaknya saja bermain-main dengan garba perempuanmu. Egois sekali. Tapi aku suka itu. Kalau kau tak main-main dengan kelaminmu, aku takut kau bukan lelaki normal.
Tadi malam kau mengirim pesan kepadaku. Dan kita pun larut dengan masa lalu. Aku ingat, kedekatan kita berawal di Bandung dua tahun lalu. Ada hal lain yang kuutarakan padamu. Aku tak sabar menjadi seorang istri. Aku tak main-main, lelaki. Aku ingin kawin. Entah dengan siapa.
Aku ingat, seorang kawan pernah berkata padaku, Jeng, cepatlah cari pacar. Jangan cuma tebar pesona terus. Hahaha.. ia bisa bilang begitu karena mungkin ia korban tepe-tepeku. Jangan pula, ttm-an. Yang rugi kan kamu sendiri, dipeluk-peluk, dicium-cium, imbuhnya. Tawaku kemudian makin meledak dengan hebatnya. Mana ada lelaki yang berani seperti itu kecuali si monyet goreng. Nggak hanya ingin memeluk dan mencium tapi minta mendaratkan gatoloco-nya di garba-ku. Dan kawanku itu, seperti kamu. Korban mainanku. Aku ingat pada sebuah pesanmu tadi malam, kau membilang, aku yang bikin ge-er kamu. Katamu, nanti jika kamu masuk nominasi suamiku, sampai grand final kamu disuruh pulang lagi (seperti dulu?)
Kenapa malam ini kita hanya membicarakan hal-hal yang nggak bermutu ya, tanyamu. Ah, kukira kita rindu masa lalu. Mungkin kamu kangen suasana jam sebelas malam kita. Mungkin pula aku rindu bualanmu. Atau, bisa jadi, aku kangen diam-mu, dan kamu kangen suara treble-ku. Toh, sepertinya tidak mungkin lagi kita seperti dulu lagi. Setelah pertengkaran yang menghebat silam, aku tak yakin kita saling mencintai seperti ucapmu. Lelaki, sekarang mari kita tuntaskan terlebih dahulu ketakutan kita akan kematian. Mari sama-sama menguatkan hati untuk menghadapi meja operasi dan seringai sayat pisaunya. Penyakit kita memang tidak main-main.
Yang kupikirkan sekarang adalah, kenapa kau kembali meng-intimiku? Kenapa harus aku?
Friday, August 24, 2007
Bang Uyunk, Your Spirit Carries on.
“Neng, kamu itu itu seperti orang yang bingung mencari kebahagiaan kemana-mana. Padahal kamu itu seperti ikan di laut. Air laut itu kebahagiaanmu”.
(seperti yang dikatakan Bang Uyunk pada saya, satu tahun silam..)
Beberapa waktu lalu saya menulis ini pada sebuah pesan untuk seorang kawan. Dua hari setelahnya, saya akan benar-benar mengingat kata-kata bang Uyunk ini dalam hidup.
Sekira sudah lama tak bertemu, saya bersua kembali dengannya malam itu. Dengan ruh dan badan yang tidak menyatu. Dengan tubuh yang membujur kaku di ruang pemulasaran jenasah. Tinggi badannya terlampau tinggi hingga tempatnya berbaring tak cukup menampung sebagian kakinya. Kawan-kawannya sudah banyak berdatangan di rumah sakit tempatnya bersemayam. Sebagian yang saya kenal adalah orang-orang teater dan orang musik. Kebanyakan sebaya dengan saya. Istrinya, mbak Umi, sedang dijemput mas Pandu. Rasanya tidak akan kuat melihat kedatangan istrinya.
Sengaja saya duduk di dekat jenasahnya bersama Indiah, karena sebagian sedang termanggu di pelataran rumah sakit. Jenasah harus ditunggui, tukas Indiah. Hanya bisa termenung dan mata air yang ditahan-tahan. Sudah, sedih jangan diperturutkan, ujar kawan saya yang lain. Melihat mata sembab bang Uyunk ketika kain penutup dibuka, saya teringat Lazu, si anak semata wayang. Saya tahu betul, abang adalah jenis ayah yang sangat protektif, paranoid dan panikan terhadap anak. Mbak Ella, si artis lokal penyiar Geronimo kemudian bergabung di kursi panjang tempat kami duduk. Manusia yang satu ini memang nggak bisa diam. Di kesempatan itu, bahkan ia sempat bilang, gimana kalau jenasahnya tiba-tiba bangun, whuaaaa..., ujarnya dengan mimik muka tak berdosa. Dan akhirnya saya pun tertawa kecut karena juga melihat posisi kaki bang Uyunk yang berubah.
Ada sesuatu yang menampar saya telak hingga terjerembab melihat apa yang dibawa istrinya pada kedatangannya yang kami tunggu. Ia terlihat maskulin malam itu dengan jas kulit panjang warna cokelat, nampak cantik, pikirku. Saya pikir saya akan melihat drama penuh tangis dan berdarah-darah. Tetapi ia hanya membawa senyum. Ya, senyum yang paling sejuk yang pernah saya lihat. Senyum berlabel ikhlas di dalamnya. Legawa atas kematian suaminya. Seharusnya saat menghadapi kematian orang yang disayang, kita memang harus menyingkirkan sifat egois kita. Seharusnya yang ditinggal tidak boleh menambah beban yang meninggal dengan kesedihan yang berlebihan. Kita sedih karena kita ditinggal, bukan? Ini kondisi ideal buat saya, namun, pada ranah praksisnya, belum mampu diaplikasikan. Saya mungkin akan belajar banyak pada senyum istrinya. Walaupun begitu, ia tampak erat memegangi baju Firman ketika melihat raga suaminya. Membisikkan beberapa patah kata, dan kemudian memeluk tubuh abang.
Pertama kali saya mengenal Bang Uyunk ketika menonton pertunjukkan teater di sebuah perguruan tinggi di Jokja. Gondrong, terkesan dekil, dan wajah yang selalu tersenyum, itulah kesan pertama yang muncul saat berkenalan dengannya. Itu pula yang terlihat pada kepulangannya menuju baka. Beberapa hari kemudian ia diundang HIMMAH pada aksi Tragedi Mei 1998, tahun 2005, bersama Tim Nota Kosong-nya untuk main teater di perempatan Gramedia. Kenapa dinamai Tim Nota Kosong, sebab sering anggota teater ini dibayar dengan nota kosong alias gratis.
If I die tomorrow, I'd be all right
Because I believe, That after we're gone
The spirit carries on
Lagu Dream Theatre mengalun dari komputer mengiringi ketikan tangan ini. Ya, berharap abang disana akan baik-baik saja. Sengaja saya tidak ikut pemakamannya. Badan rasanya berontak ingin istirahat. Penyakitku muncul saat yang tak tepat. Di tidur siang itu, abang hanya mati suri dan bangun kembali seperti apa yang dikatakan mbak Ella. Dia membilang pada saya, di alam sana ia bahagia, ia senang bertemu Allah. Semoga mimpi itu terwujud.
Berharap juga semangatnya akan terus menghidupi orang-orang di lingkarannya. Seingat saya, Ia getol sekali mengajari anak-anak muda yang berhasrat dengan dunia teater dan musik. Ia berjuang dengan caranya. Tanpa banyak cakap. Saat meninggal pun ia sedang bermain band di sekitaran jalan Solo. Mencari nafkah untuk keluarga kecilnya. Saya pernah mendengar ceritanya tentang bagaimana ia pernah menjadi tukang bangunan, dan terakhir yang ia bilang pada saya, ia sedang kerja siang jadi pelayan di Kindai, jalan Gejayan dekat jembatan merah. Yang belum saya mengerti adalah pilihannya tentang hidup. Berasal dari keluarga kyai yang mapan di Kalimantan, tetapi ia memutuskan memilih sendiri kehidupan dan penghidupannya.
“Neng, kok cuma disenggol hp-nya?”, ujarnya melalui pesan pendek ketika saya hanya me-missed call ponselnya pada suatu malam. Kami pun ber-sms ria, pada malam terakhir kami berhubungan. Ia menanyakan alamat kost yang baru, pengen maen, katanya. Ah, abang. Ini pula yang pertama kali membuat saya menangis mendengar kabar kematianmu. Saya menyesal. Bang Uyunk selalu merangkul anak-anak muda untuk lebih memaknai hidup. Dengan berbagai cara. Begitu pula dengan apa yang saya rasakan. Ia sering mampir ke kost, untuk menyambung tali perkawanan. Tapi aku sering kecele, kamu jarang di kost, katanya. Pernah ia datang bertiga dengan mas Aan dan si kecil Lazu. Dengan vespa kuningnya. Mungkin anak-anak kost ngeri liat ada dua orang yang tinggi-tinggi, kurus, gondrong pula. Begitulah, inilah keegoisan saya. Saya terlalu asyik dengan dunia yang saya ciptakan sendiri. Terhitung, hanya sekali saya menyambangi rumah kecilnya yang asri. Berwarna cerah, kuning. Panorama didepan sangat indah, gunung Merapi. Saat itu diajak mbak Weka latihan musik dirumah abang. Mbak weka memegang biola, mas pandu piano, abang jambe, mas aan gitar kalau tidak salah, masih ada juga Awan dan satu orang lagi yang tidak saya kenal. Saya sendiri cuma bengong. Di rumahnya banyak sekali kasur. Kawan-kawan abang memang sering menginap dirumahnya. Saya ingat, bang uyunk juga sering mengajak mancing. Ya, memancing adalah kegemarannya yang lain. Seperti biasa, ajakannya hanya bisa saya iya-iyakan saja.
Kadang saya sering wadul dan sambat kalau si Lazu mulai mengata-ngatai saya dengan kejam. Dengan bijak pula bang Uyunk memarahi Lazu. Oya, oleh Lazu, saya di panggilnya bibi. Teman-teman lain juga dipanggilnya demikian. Pada bang uyunk saya pernah protes karenanya, ia kemudian berkata, masa mbak, apalagi tante? Ternyata itu bentuk penghormatannya dan Lazu untuk kawan-kawan abang. Ia tahu bagaimana menempatkan diri.
Move on, be brave, Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear
Mungkin kira-kira itulah yang ingin disampaikan. Dan orang-orang yang merasa ditinggalkan memang tidak seharusnya meratap atas sebuah keberpulangan. Tetapi ruh dan semangat bang uyunk mungkin akan menghidupi yang ditinggalkan. Inilah bedanya orang baik dan orang yang tidak baik (dimata saya). Orang baik, saat meninggal pun masih memberikan sebuah inspirasi bagi yang tertinggal. Seperti almarhum Taufik Savalas misalnya. Begitu pula abang.
Terakhir kali bertemu dengannya, saat HIMMAH mengadakan pembukaan pameran foto di Toga Mas, ia diundang untuk mengisi acara tersebut. Tetapi ia sendiri hanya mengantar anak didikannya bermain teater, Repertoar Gerak Lambat temanya. Tingkat kesusahannya lebih tinggi, kata abang. Dibidang teater, ia pernah mengenyam pendidikan di ISI dan ASDRAFI. Setahu saya, dua-duanya tidak lulus.
Abang kayak cenayang aja, ucapku kepadanya suatu saat. Bagaimana tidak, ia tahu betul satu kebiasaanku kalau lagi sendu. Saya, meskipun sangat ekstrovert, tidak pernah bercerita mengenai hal ini kepada orang lain. Entah darimana ia mengetahui rahasia itu. Ia banyak mengetahui sesuatu tentang seseorang. Inilah yang membuat saya tertarik untuk membaca orang dari laku, sekecil apapun itu. Menyelami dan membuka orang. Ada seorang kawan yang mengira ia dukun, sehingga ketika kehilangan sebuah ponsel, ia datang kepada abang, menanya kabar ponselnya. Abang pun menolak.
Kecintaan pada keluarga juga memberi sebuah pembelajaran buat saya. Pernah suatu ketika, ia lekas-lekas ingin pulang kerumah. Waktu menunjuk pada pukul sebelas malam. Ketika itu saya dan si Je sehabis melihat abang melatih anak didiknya maen teater dan mampir di Cik di tiro. Ia agak disiplin ketika melatih teater. Kasihan istri dan anakku, tukasnya. Ia lantas menambahkan, walaupun perumahan, sekitar rumahnya masih senyap. Di rumah hanya ada mbak Umi dan Lazu. Abang juga mengajak saya dan si Je pulang. Ayo bareng pulangnya, anak perempuan nggak takut apa pulang malam-malam?, ujarnya. Tawa saya dan si Je pun menggelegar. Aduh abang, ini masih sore.., tukas dalam hati. Kami pulang, abang di belakang saya dan si Je. Karena terbiasa naik motor dengan kecepatan tinggi dimalam hari, saya lupa ada abang. Wah, wah, wah, ngebutnya..., motorku motor tua, kata abang sambil ngos-ngosan dan rambut yang melambai-lambai, merujuk pada motor shogunnya.
Sehari sebelum kematian bang uyunk, istrinya sudah mempunyai firasat. Kata mas Pandu, mbak Umi mimpi giginya tanggal satu. Sedemikian eratnya pasangan itu. Dahulu, abang mengajak mbak Umi menikah dengan cara yang aneh. Saat itu abang ingin pergi ke Jakarta (kalau saya tidak salah ingat) naik kereta, ia membilang, mbak Umi mau jadi istrinya nggak? Dan jawabannya harus saat itu juga. Dan sampai kini, mautlah yang memisahkan hubungan itu. Dengan Lazu sebagai salah satu pengikat keduanya. Abang orang hebat, pantas saja memilih perempuan yang hebat pula.
Sering saya mengejek kulitnya yang tidak bisa dibilang putih. Ia membilang, jangan hanya memandang orang dari fisiknya. Saya baru sadar kenapa abang serius sekali saat mengatakannya, padahal saya berkata hanya dalam konteks bercanda. Ia tipe-tipe orang yang mengayomi.
Itulah bang Uyunk. Abang kita tercinta, kata mbak Weka. Sampai saat ini, belum pernah ada orang yang membicarakan kejelekannya kepada saya. Sungguh, ia istimewa bagi orang-orang yang mengenalnya. Pun saya yang hanya kenal selintas-selintas. Semoga ia bahagia disana. Amien. Dan semoga rasa sesal bisa menjadi pembelajaran buat saya. Merasalah mempunyai orang-orang disekitarmu, sebelum mereka benar-benar pergi.
Bang Uyunk, Your Spirit Carries On...
Monday, August 13, 2007
Emak
Sebentar, ada yang tertinggal.
Ah, kita lupa meratapi hari, Mak
Kita lupa berpura-pura menjerang air
Dan berlagak makan enak
Kita juga lupa, bapak tadi pamit kemana
Maksudku, ke gua garba yang mana lagi,
Ia coba sedekahkan mani-maninya
Tapi Mak, semoga hari ini aku tak lupa
Membaca tuhan,
Pada air muka-mu.
Sedang berusaha membuat puisi sederhana yang tidak liris dan tidak pula mendayu-dayu. Gara-gara membuka kembali Pacar Senja-nya Jokpin, nih.
Thursday, August 9, 2007
habituari butuh, antara seksualitas dan pembiasaan
Keep Virgin, be Healthy
Saya membilang, itu klise. Bukan, bukan iklannya. Melainkan kejadiannya. Iklannya sendiri menurut saya cukup ‘tidak biasa’. Bagaimana tidak, iklan kondom dengan ‘cewek suka yang pake helm’, menjadi sebuah pembiasaan bagi masyarakat untuk menerima sebuah kebiasaan baru. Budaya seks bebas. Tetapi jangan lantas menuduh sok moralis karena menulis tentang ini. Sekali lagi, mari bercermin dari tulisan sendiri. Saya percaya kekuatan kata-kata.
Tidak pernah ada penghakiman bahwa mereka yang melakukan seks bebas sebagai gaya hidup itu sebagai sebuah salah. Ada keyakinan, masing-masing manusia yang melakukannya sudah masuk dalam taraf dewasa karena mempunyai insting untuk menyalurkan libidonya. Jadi, hak mereka untuk melakukan atau tidak melakukan.
Yang sangat menganggu pikiran akhir-akhir ini adalah beberapa pengakuan kawan-kawan lelaki. Kebiasaan lebih dekat dengan kawan dari kaum adam daripada kaum hawa membuat saya lebih mengerti mereka. Tidak pernah ada sekat antara kami. Tidur bersama-sama, dan kadang terbangun kaget melihat didepan ada wajah tak berdosa sedang tidur beberapa inci didepan wajah kita. Membiasakan diri mendengarkan omongan jorok mereka, membiasakan diri melihat kebiasaan buang air didepan mata. Mengerutu sebal saat mereka menggoda dengan hanya memakai celana dalam (hal yang sudah terjadi dari SMP, sampai saat ini kuliah), dan mendengarkan saat mereka bercerita tentang Miyabi, sang aktris porno kegemaran. Seperti sudah dianggap sebagai lelaki tulen. Mungkin karena ekstrovert, mereka pun sangat terbuka.
Bahkan dalam masalah seksualitas pun. Sebagai contoh, beberapa hari lalu, salah seorang kawan yang sudah menikah selama beberapa tahun pernah mengkisahkan pengalamannya bertemu dengan wanita hypersex. Wah, capek meladeninya. Dia minta berulang-ulang kali. Padahal aku harus ngumpulin tenaga dulu, ujarnya. Di lain waktu, seorang teman bercerita tentang tidak enaknya memakai kondom. Atau cerita-cerita lain, yang kalau diceritakan mungkin yang membaca kebelet kekamar mandi pengen onani atau masturbasi (atau, kangen pacar untuk dinikmati?). Ah maaf, selalu tanpa basa-basi.
Dan yang sangat membuat keki adalah kisah salah seorang sahabat, dan pengakuannya. Kebanyakan lelaki, saya maksudkan in general, bukan mengeneralisasikan, setelah mendapat keperawanan seorang perempuan lantas kemudian ditinggalkan. Tipe-tipe ‘Penjahat Kelamin’ mahasiswa Yogyakarta. Pernah saya melihat dan mendengar raungan salah seorang pacar sahabat saya ini yang diputusnya hanya dengan alasan : bosan. Dan ia pernah memerkosanya. Perempuan ini masih duduk di sekolah menengah, dan memakai jilbab. Saya selalu mengingat tangis itu. Jangan bilang suka sama suka. Mayoritas perempuan, ketika berhubungan pertama kali pasti merasa amat berdosa, tidak berharga dan menyesal. Tetapi banyak juga yang lantas ketagihan. Ada yang beralasan sudah kecebur, nyebur aja sekalian. Sumbernya akurat lho, tidak mengada-ada.
Bisa jadi free sex memang sudah menjadi common culture. Tak jarang beberapa teman lelaki mengajak untuk melakukan sebuah persetubuhan. Tapi tentunya mereka yang bukan teman dekat atau sahabat, karena mereka pasti mengetahui bagaimana saya beserta pikiran yang terusung. Kalau berbicara tentang ini, pikiran tak ayal jatuh pada sebuah malam. Seseorang yang dalam hidup pernah sangat amat disuka, pernah berniat untuk menistakan saya. Maka hancur leburlah saya. Beruntungnya, saat itu kesadaran dalam voltase yang sangat tinggi. Sehingga hal yang biasa, namun tidak bisa saya “biasakan” itu tidak terjadi. Seharusnya perempuan bisa dan berkuasa untuk berkata “tidak”. Dengan tidak menafikan hasrat seksualitas lelaki memang sangat tinggi. Dan saya pun juga bukan jenis orang yang mengagung-agungkan keperawanan. Tapi maaf, sampai saat ini saya masih menghargai orang tua dan calon suami kelak. Merasa pula masih bertuhan. (Maaf tuhan, membawa-bawa namamu lagi).
Nge-gap orang yang sedang making love pun tidak sekali dua kali. Ada yang maen dikamar mandi (busyet kalo yang ini sampai satu jam..), kamar kost atau tempat-tempat strategis lainnya. Bahkan menurut salah satu pegawai bagian rumah tangga fakultas Ekonomi UII, setiap menyedot WC pasti ditemukan banyak kondom bekas. Iip Wijayanto pernah mengadakan survei yang hasilnya menyatakan bahwa 97% mahasiswi Jogja tidak perawan. Tidak menyangkal tidak pula membenarkan. Agak ragu juga melihat angkanya sebesar itu, kalau melihat teman2 perempuan sekitar, masih banyak juga yang tetap berprinsip menjaga keperawanan.
Sekali lagi inilah pilihan. Tuhan dalam kitabnya seringkali memberikan pilihan, agar manusia mau berpikir. Sebagai permisalan, kamu mendapat surga jika kamu melakukan ini, dan mendapat neraka jika melakukan itu. Tidak menekankan kata “harus”. Dan hingga saat ini, saya memilih jalan ini. Entah besok, lusa, atau nanti. Toh manusia selalu berubah dengan dinamis.
Ngomong-ngomong lelaki atau perempuan yang pernah berhubungan badan dengan lebih dari dua orang, lantas menikah, jika ia menemukan kekurangan seksualitas pasangannya, apakah ini salah satu pendorong perselingkuhan juga? Oya, cewek-cewek banyak juga yang suka nonton bokep lho. Banyak juga yang koleksinya lengkap. Wuih... apakah saya memang ketinggalan jaman....